gambar

Blog Archives

Twitter Sufisme News

Tampilkan postingan dengan label AL HIKAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL HIKAM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 April 2012

9. AHWAL MENENTUKAN AMAL


MACAMNYA JENIS AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI  MACAMNYA  AHWAL 

Hikmah no. 9 ini ringkas tetapi padat. Hikmah ini merupakan lanjutan kepada Hikmah no.8 (JALAN MENUJU MA'RIFAT) yang diuraikan sebelum ini. Hikmat yang ke delapan menjelaskan tentang perhentian di hadapan pintu gerbang dan belum menyentuh makrifat. Hikmat ke sembilan ini memberi gambaran tentang makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang sebaliknya dikatakan sebagai ahwal. Ahwal adalah jama’ dari kata hal. Hikmah ini membawa arti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau kelakuan lahiriah dan hal adalah suasana atau kelakuan hati. Amal berkaitan dengan lahiriah manakala hal berkaitan dengan batiniah. Oleh karena hati menguasai semua anggota, maka kelakuan hati yaitu hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.

Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan dzauq atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah s.w.t). Oleh itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu mengajarkan makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasawuf  bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti  jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai-bagai bentuk dan suasana dunia ini. 

Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apa jua rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. 

Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeda-beda, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak.

Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf, maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau dzauq, yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai pada pintu gerbangnya. Apabila sampai di situ, seseorang hanya menanti karunia Allah s.w.t, hanya karunia Allah s.w.t yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah s.w.t yang menjadikan makrifat itu dinamakan hal. Allah s.w.t memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pengsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau dzauq atau merasai keperkasaan Allah s.w.t dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah s.w.t. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari dzauq hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat. Orang yang dapat dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah s.w.t.

Oleh sebab itu untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu boleh didapati dengan belajar, sementara secara dzauq didapati tanpa belajar. Ahli tasawuf tidak berhenti pada makrifat secara ilmu saja, malah mereka mempersiapkan hati mereka agar siap menerima kedatangan makrifat secara dzauq.

 Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam masa yang tertentu saja dan ada juga yang  berkelanjutan dalam waktu yang panjang dalam hal. Hal yang berterusan atau berkelanjutan dinamakan wishal iaitu penyerapan hal secara berterusan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wishal akan terus hidup dengan cara hal yang berkenaan. Hal-hal (ahwal) dan wishal bisa dibagi menjadi lima jenis:

1 : Abid: 

 Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau dzauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, keupayaan, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah  daya dan upaya yang dari Allah s.w.t. Semuanya itu adalah karunia-Nya semata. Allah s.w.t sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada masa yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t hingga sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak bermaya, tidak boleh bergerak, kerana dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah s.w.t. Hal atau suasana  yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadat, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah s.w.t dan gemar bersendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah s.w.t akan menjauhkan dirinya daripada Allah s.w.t.

2 : Asyiqin:

Asyikin ialah orang yang mendapat asyiq dengan sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t di dalamnya. Amal atau kelakuan asyiqin ialah gemar tafakur alam maya dan memuji Keindahan Allah s.w.t pada apa yang disaksikannya. Dia boleh duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t. Orang yang menjadi asyiqin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.

3 : Muttakhaliq:

Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana  Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah s.w.t menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu  perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya.

Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah s.w.t melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah s.w.t, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t. Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, yang berlaku secara spontan. Kelakuan atau amal Qurbi Faraidh ialah bercampur-campur di antara logis dengan tidak logis, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil. Dalam banyak perkara penjelasan yang boleh diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki”.
Dalam suasana Qurbi Nawafil pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah s.w.t yang menguasai bakat dan keupayaan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah s.w.t kerana Allah s.w.t mengaruniakan kepadanya kelebihan untuk berbuat sesuatu. 

Contoh Qurbi Nawafil adalah kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah s.w.t, juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah s.w.t yang diizinkan menjadi bakat dan keupayaan beliau a.s, sebab itu beliau a.s tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah s.w.t.

4 : Muwahhid:

Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan segala yang maujud. Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke‘Abdullah-an’ dan benar-benar dikuasai oleh ke‘Allah-an’.
Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syara’. Dia mengaku, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku!” Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh kewujudan ‘Aku Hakiki’. 

Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam keridhaan Allah s.w.t. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya. Ahli hal tenggelam dalam perlakuan Allah s.w.t. Bila dia mengucap , “Akulah Allah!” bukan bermakna dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah s.w.t. Allah s.w.t yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.

Berbeda pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada dzauq, tetapi berkelakuan dan bercakap seperti orang yang di dalam dzauq. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara dzauq. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati bercakap tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini bercakap sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih dikuasai dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang seperti itu adalah sesat dan kufur!

5 :  Mutahaqqiq: 

Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurusnya. 

Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar  dari khalwatnya dengan Allah s.w.t dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesadaran sifat barulah dia boleh memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah s.w.t menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah s.w.t dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah s.w.t. 

Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli tarekat   yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Allah s.w.t karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeza-beza, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeza-beza. Ahwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat kerohanian, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan sembahyang, zikir atau puasa. Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

Wallohu A'lam Bisshowab
BACA SELANJUTNYA - 9. AHWAL MENENTUKAN AMAL

Senin, 16 April 2012

8. JALAN MENUJU MA'RIFAT


APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MAKRIFAT, MAKA JANGAN HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KARENA ALLAH S.W.T TIDAK MEMBUKA JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK MEMPERKENALKAN DIRI-NYA  KEPADA KAMU.

Kalam-kalam Hikmat yang diuraikan dahulu mengajak kita merenung secara mendalam tentang pengertian amal, Qada’ dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah s.w.t , yang semuanya itu mendidik rohani agar melihat kecilnya apa yang datangnya dari hamba dan betapa besar pula apa yang dikaruniakan oleh Allah s.w.t. Rohani yang terdidik begini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu, sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah s.w.t yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah s.w.t tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayat dari Allah s.w.t.

Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah s.w.t, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia mau ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah s.w.t. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah s.w.t. Allah s.w.t hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan  ‘diri-Nya’. Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terhulur kepada gerbang  makrifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu pergi lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah s.w.t maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t.
Bukan senang mau membulatkan hati untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah s.w.t. Ada orang yang mengetuk pintu gerbang makrifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga boleh membawa kepada berputus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah s.w.t bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima karunia Allah s.w.t sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan berasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan mencari makrifat seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah s.w.t. Hamba tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Allah s.w.t, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah s.w.t. Aslim atau menyerah diri kepada Allah s.w.t adalah perhentian di hadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima karunia makrifat. Allah s.w.t menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah makam berhampiran dengan Allah s.w.t. Siapa yang sampai kepada makam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki dari makam inilah hamba diangkat ke Hadrat-Nya.

Jalan menuju perhentian aslim yaitu ke pintu gerbang makrifat secara umumnya terbahagi kepada dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. 

Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah, berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadat dan gemar menuntut ilmu. Zahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman. Dipelajarinya tarekat tasawuf, mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya dari dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhai Allah s.w.t. Inilah orang yang diceritakan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

وَالَّذينَ جٰهَدوا فينا لَنَهدِيَنَّهُم سُبُلَنا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ المُحسِنينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.  (Al-Ankabut: 69)

يٰأَيُّهَا الإِنسٰنُ إِنَّكَ كادِحٌ إِلىٰ رَبِّكَ كَدحًا فَمُلٰقيهِ
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (Al-Inshiqaq: 6) 

Orang yang bermujahadah pada jalan Allah s.w.t dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadat, berzikir, menyucikan hati, maka Allah s.w.t menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah s.w.t tanpa ragu-ragu dan ridha dengan af’al Allah s.w.t. Dia dibawa hampir dengan pintu gerbang makrifat dan hanya Allah s.w.t saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya ataupun tidak, dikaruniakan makrifat ataupun tidak.
Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda dari golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi, Allah s.w.t telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan mengantarnya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu.
Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalunya berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang di antaranya dengan Allah s.w.t. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah s.w.t, maka Allah s.w.t mencabut kerajaan itu darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada masa yang sama timbul satu keinsafan di dalam hatinya yang membuatnya menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t dengan sepenuh hatinya. 

Sekiranya dia seorang hartawan takdir akan memupuskan hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Sekiranya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut ialah kemuliaan yang dimilikinya, digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah s.w.t. 

Orang dalam golongan ini dihalang oleh takdir dari menerima bantuan dari makhluk sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah s.w.t dan timbullah dalam hati mereka suasana penyerahan atau aslim yang benar-benar terhadap Allah s.w.t. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan Allah s.w.t. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai ke perhentian tersebut dalam masa dua bulan sedangkan orang yang mencari mungkin sampai dalam masa dua tahun.
 Abu Hurairah r.a menceritakan yang beliau r.a mendengar Rasulullah s.a.w bersabda yang artinya: 

Allah berfirman: “ Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbarui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”.

 Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah s.w.t. Oleh yang demikian tidak perlu dipersoalkan tentang amalan dan ilmu sekiranya keadaan yang demikian terjadi kepada seseorang hamba-Nya.
 
BACA SELANJUTNYA - 8. JALAN MENUJU MA'RIFAT

Minggu, 10 Juli 2011

7 : JANGAN RAGU TERHADAP JANJI ALLAH

AL-hikam 7 : JANGAN RAGU TERHADAP JANJI ALLAH


JANGAN SAMPAI MERAGUKAN KAMU TERHADAP JANJI  ALLAH,  KARENA TIDAK TERLAKSANA APA YANG TELAH DIJANJIKAN, MESKIPUN TELAH TERTENTU (TIBA)   MASANYA, SUPAYA KERAGUAN ITU TIDAK MERUSAKKAN MATA HATI MU DAN TIDAK MEMADAMKAN CAHAYA SIR (RAHSIA ATAU BATIN) KAMU.

Allah s.w.t menjanjikan untuk menerima semua doa. Hamba sudah sangat kuat dan rajin berdoa. Hamba berdoa agar diselamatkan dari suatu musibah. Masanya musibah itu sudah tiba, tetapi keselamatan daripadanya tidak tiba. Timbul keraguan dalam hati hamba itu, tentang janji-janji Allah s.w.t.

Sebagian orang beriman diuji dengan penerimaan atau penolakan doa, dan sebagian yang lain diuji dengan tertunai atau tertahan janji Allah s.w.t. Janji Allah s.w.t ada dalam bentuk umum dan ada dalam bentuk khusus. Janji umum banyak terdapat di dalam al-Quran seperti janji surga terhadap orang yang berbuat kebajikan, janji neraka terhadap orang yang durhaka, janji ketinggian darjat bagi orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t, janji kekuasaan di atas muka bumi terhadap orang yang beriman dan beramal salih, dll. 


Di dalam surah an-Nisaa’ ayat 95 Allah s.w.t  menjanjikan ganjaran yang besar kepada orang yang berjihad pada jalan-Nya. Dalam surah an-Nur ayat 55 Allah s.w.t menjanjikan kepada orang yang beriman dan beramal salih bahwa mereka akan dijadikan khalifah di bumi, Dia akan teguhkan agama mereka dan Dia akan hilangkan ketakutan mereka.

 Banyak lagi janji Allah s.w.t yang boleh ditemui di dalam al-Quran. Janji-janji Allah s.w.t secara umumnya berkaitan dengan amal, sesuai dengan sunnatullah yang menguasai perjalanan kehidupan. Ada juga janji secara khusus kepada orang-orang tertentu, misalnya melalui mimpi atau suara ghaib. Orang yang beriman dengan Allah s.w.t percaya kepada janji-janji-Nya. Janji Allah s.w.t menjadi pendorong kepada mereka untuk bekerja kuat, beramal salih dan berjihad pada jalan-Nya. 


Allah s.w.t tidak sekali-kali akan memungkiri janji-janji-Nya. Di dalam golongan yang percaya kepada janji-janji Allah s.w.t itu ada segolongan orang  yang berpenyakit, seperti yang dialami oleh segolongan orang yang berdoa kepada Allah s.w.t. Orang yang berdoa membuat tuntutan dengan doanya dan orang yang percaya kepada janji Allah s.w.t membuat tuntutan dengan amalnya, kerana Allah s.w.t berjanji memberinya sesuatu menurut amalannya.

Hikmah ketujuh dari kitab Al-Hikam ini, terkait janji Allah s.w.t  dengan mata hati dan Nur Sir (Rahsia atau batin). Persoalan mata hati telah disentuh pada Hikmah ke lima. Penyingkapan rahasia mata hati menemukan kita dengan persoalan diri zahir, diri batin dan seterusnya kepada persoalan roh. Pembahasan mata hati membawa kepada pengenalan terhadap Alam Barzakh dan keabadian. Mata hati yang kuat, tidak berhenti pada Alam Barzakh, ia terus meningkat  kepada peringkat alam yang lebih tinggi yang dinamakan Alam Malakut . Pandangan mata hati seterusnya sampai kepada kulit alam yang dinamakan Arasy Yang Meliputi. Semua makhluk Allah s.w.t menghuni ruang yang di dalam atau dibatasi oleh kulit atau kerangka alam, yaitu Arasy. 


Tidak ada mahluk yang wujud di luar dari kulit alam. Walaupun kulit alam merupakan kejadian Tuhan yang paling luar, namun mata hati tidak berhenti di situ saja. Mata hati terus menerobos ‘di luar’ dari kulit alam, yang disebut  Alam Ketuhanan. Di sini timbul persoalan berat dan rumit untuk diuraikan. Semua kejadian berada di dalam kulit alam. Kulit alam adalah yang terakhir. Apabila sampai kepada kulit alam tidak boleh lagi dikatakan wujud alam ketuhanan di luar, selepas, di balik dan istilah-istilah lain, karena tidak ada apa-apa lagi. Wujud  ketuhanan bukanlah satu jenis alam lain. Tidak boleh dikatakan wujud alam ketuhanan setelah alam kita ini. Allah s.w.t Berdiri Dengan Sendiri, tidak menempati ruang. 

Jika demikian persoalannya bagaimanakah yang dikatakan ketuhanan sedangkan kita sudah menjelajah ke seluruh alam maya namun, Allah s.w.t tidak juga ditemui?  Antara alam yang sementara dengan alam abadi terdapat Alam Barzakh. Barzakh adalah perhubung. Barzakh itulah yang menghubungkan dua keadaan yang berbeda. Jika terdapat barzakh di antara makhluk dengan makhluk, terdapat juga barzakh di antara Tuhan dengan makhluk. Barzakh inilah yang menjadi penghubung di antara Tuhan dengan hamba. Tanpa barzakh ini tidak mungkin berlaku kewujudan makhluk yang diciptakan Tuhan karena tidak ada tali atau jembatan yang menghubungkan. Barzakh di antara Allah s.w.t dengan hamba itu dinamakan Sir atau Rahasia, yaitu Rahasia Allah s.w.t, yang hanya Allah s.w.t yang mengetahui hakikat yang sebenarnya. 

Rahasia inilah yang memungkinkan ada hubungan di antara Pencipta dengan yang di cipta. Sir atau Rahsia itu memancarkan nurnya kepada mata hati. Mata hati yang bersuluhkan  Nur Sir (rahsia ketuhanan) akan mendapat pengenalan tentang Sir dan mengalami suasana tauhid  peringkat yang tertinggi. Apabila hakikat Sir ditemui, maka nyatalah firman Allah s.w.t:
وَنَحنُ أَقرَبُ إِلَيهِ مِن حَبلِ الوَريدِ 


Dan Kami adalah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, - ( Ayat 16 : Surah Qaaf )
  وَهُوَ مَعَكُم أَينَ ما كُنتُم


Dan Ia tetap bersama-sama kamu di mana saja kamu berada. ( Ayat 4 : Surah al-Hadiid )
وَاللَّهُ خَلَقَكُم وَما تَعمَلونَ 


“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!”( Ayat 96 : Surah as-Saaffaat )
وَما تَشاءونَ إِلّا أَن يَشاءَ اللَّهُ رَبُّ العٰلَمينَ 


Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. ( Ayat 29 : Surah at-Takwiir)


Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.

Apa yang ada pada kita semuanya adalah karunia dari Allah s.w.t. Kemauan kita untuk melakukan amal salih datangnya dari Iradat Allah s.w.t, tanpa Iradat Allah s.w.t kita akan menjadi dungu, tidak berkemauan. Apabila kita melakukan amal kebaikan, kita tidak terlepas dari menggunakan daya dan upaya yang datangnya dari Allah s.w.t. Tanpa Kudrat Allah s.w.t kita tidak mampu bergerak. keinginan kita untuk berdoa dan beramal adalah karunia dari Allah s.w.t.
يَمُنّونَ عَلَيكَ أَن أَسلَموا ۖ قُل لا تَمُنّوا عَلَىَّ إِسلٰمَكُم ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيكُم أَن هَدىٰكُم لِلإيمٰنِ إِن كُنتُم صٰدِقينَ 


"Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ""Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar". ( Ayat 17 : Surah al-Hujuraat )


 Kehendak  dan perbuatan kita adalah anugerah dari Allah s.w.t. Jadi, apakah hak kita untuk menuntut Allah s.w.t dengan doa dan amal kita ?. Memang benar Allah s.w.t berjanji untuk mengabulkan semua doa dan mengaruniakan sesuatu menurut amalan. Tetapi, tidak ada makhluk-Nya yang layak menagih janji tersebut. Janji Allah s.w.t kembali kepada diri-Nya Sendiri. Jangan coba-coba menuntut janji Allah s.w.t,  karena andainya Dia menuntut kamu dengan amanah yang dipertaruhkan kepada kamu niscaya semua amalan kamu akan hancur berterbangan seperti debu, tidak ada walau sebesar bijipun yang layak dipersembahkan kepada-Nya apabila kamu dihadapkan kepada keadilan-Nya.


Maka dari itu, berteduhlah di bawah payung rahmat dan keampunan-Nya, jangan diungkit-ungkit tentang amal kamu dan janji-Nya. Contohilah akhlak Rasulullah s.a.w yang telah menerima janji Allah s.w.t, yaitu baginda s.a.w telah bermimpi memasuki kota Makkah. Kaum muslimin percaya bahwa mimpi Rasulullah s.a.w adalah mimpi yang benar dan mereka yakin bahwa itu adalah janji Allah s.w.t kepada Rasul-Nya, yang Dia mengizinkan mereka bersama-sama memasuki kota Makkah sekalipun musyrikin Quraisy masih menguasai kota tersebut. Kaum muslimin berangkat dari Madinah ke Makkah. Rombongan mereka dihadang sebelum sampai di Makkah. Kaum musyrikin enggan membenarkan kaum muslimin memasuki Makkah. 


Akibat  dari peristiwa itu terjadilah Perjanjian Hudaibiah. Rasulullah s.a.w setuju agar kaum muslimin tidak memasuki Makkah pada tahun itu. Sayidina Umar al-Khattab r.a yakin akan mimpi Rasulullah s.a.w. Beliau r.a juga percaya bahwa mimpi Rasulullah s.a.w itu adalah janji Allah s.w.t mengizinkan mereka memasuki kota Makkah. Beliau r.a juga yakin bahwa lantaran janji Allah swt adalah benar, maka bertegas memasuki Makkah walaupun dengan cara berperang adalah tindakan yang benar. Beliau r.a menganjurkan agar berperang supaya kebenaran mimpi Rasulullah s.a.w dan kebenaran janji Allah s.w.t menjadi kenyataan. Iman Umar r.a yang sangat mendalam membuatnya mau maju terus menurut petunjuk yang sampai kepada beliau r.a. tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Sayidina Abu Bakar as-Siddik yang Nur Sirnya lebih sempurna daripada Nur Sir Umar r.a bersikap menyetujui tindakan Rasulullah s.a.w mengadakan Perjanjian Hudaibiah. Melalui pancaran Nur Sirnya,  Abu Bakar r.a dapat menyaksikan apa yang terlindung dari pandangan mata hati Umar r.a.


Kemudian ternyata perjanjian tersebut banyak memberi manfaat kepada kaum muslimin. Ternyata kebijaksanaan Rasulullah saw mengadakan Perjanjian Hudaibiah dan kebenaran pandangan mata hati Abu Bakar r.a melalui pancaran Nur Sirnya. Sesuai dengan Perjanjian Hudaibiah, pada tahun berikutnya kaum muslimin dapat memasuki kota  suci Makkah secara aman. Benarlah apa yang dimimpikan oleh Rasulullah s.a.w dan benarlah janji Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w menerima janji Allah s.w.t sebagai satu karunia yang wajib diyakini dengan cara bertawakal kepada Allah s.w.t dalam pelaksanaannya. 


Bila terjadi sesuatu yang pada zahirnya menghalangi terlaksananya  janji Allah swt itu Rasulullah saw tidak menagih Allah swt dengan janji tersebut, sebaliknya baginda saw mengembalikannya kepada Allah swt. Sebagai balasan terhadap kerelaan menerima takdir Allah swt, maka Allah swt karuniakan pula Perjanjian  Hudaibiah yang banyak membantu perkembangan dakwah Islam. Allah s.w.t  juga tidak sekali-kali melupakan janji-Nya mengizinkan kaum muslimin menziarahi tanah suci Makkah, dengan rahmat-Nya kaum muslimin memasuki kota Makkah pada tahun berikutnya dalam suasana aman. Jadi, apabila janji  Allah s.w.t dikembalikan kepada Allah swt maka Allah swt melaksanakannya.


Peristiwa di atas memberi pengajaran kepada kita tentang Sir. Sayidina Abu Bakar as-Siddik ra melebihi sahabat-sahabat yang lain lantaran Sirnya, yaitu Rahasia pada hati nuraninya yang menghubungkannya dengan Allah s.w.t. Sir yang menguasainya itulah yang menjadikannya as-Siddik. Beliau ra dapat membenarkan kebenaran Nabi Muhammad s.a.w tanpa ragu. Beliau r.a membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ketika kebanyakan kaum Quraisy menafikannya. Abu Bakar ra bukanlah seorang dungu yang bertaklid secara membuta tuli. 

Tetapi, apa yang sampai kepadanya diakui oleh Sirnya yang memperoleh  pengesahan dari Allah swt. Cahaya kebenaran yang keluar dari Rasulullah saw dan cahaya kebenaran yang keluar dari Sir Abu Bakar ra adalah sama, sebab itulah Abu Bakar ra membenarkannya tanpa usul dan tanpa meminta bukti. Bukti apa lagi yang diperlukan,  apabila Sir telah mendapat jawaban dari  Allah swt. Sir atau Rahasia Allah swt itulah yang tidak terputus dari  Allah swt, senantiasa menghadap kepada Allah swt dan mendengar Kalam Allah swt. Sir itulah yang mengenal Allah swt

Kemurnian Sir Abu Bakar as-Siddiq r.a terbukti lagi ketika kewafatan Rasulullah saw. Umar ra yang dikuasai oleh iman yang sangat kuat yang melahirkan cinta yang mendalam terhadap Rasulullah saw, Kekasih Allah swt, dikuasai kecintaan itu, beliau ra mau memancung kepala siapa saja yang mengatakan Rasulullah saw sudah wafat. Tetapi, Abu Bakar ra, yang kecintaannya terhadap Rasulullah saw melebihi kecintaan Umar ra mampu mengatakan, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad sudah wafat. 

Siapa yang menyembah Allah s.w.t maka Allah s.w.t tidak akan wafat selama-lamanya!” Begitulah murninya cahaya atau nur  yang diterima oleh Abu Bakar ra di dalam hatinya yang dipancarkan oleh Sir. Tidak salah jika dikatakan sekiranya mau memahami hakikat Sir maka fahamilah diri Sayidina Abu Bakar as- Siddiq ra. Mengenali beliau ra membuat seseorang mengenali tanda-tanda Sir.


Kalam Hikmah ketujuh ini memberi panduan untuk memahami hakikat Sir. Tanda seseorang tidak mendapat sinaran Nur Sir ialah dia meragui janji-janji Allah swt, lantaran dia mendefinisikan janji Allah s.w.t menurut seleranya sendiri. Bagaimana kedudukan kita terhadap janji Allah swt begitulah keadaan hati kita berhubung dengan Rahsia  Allah swt atau Sir.


BACA SELANJUTNYA - 7 : JANGAN RAGU TERHADAP JANJI ALLAH

Rabu, 29 Juni 2011

6. PENGERTIAN DO'A

JANGANLAH KARENA KELAMBATAN WAKTU PEMBERIAN TUHAN KEPADA KAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB ALLAH  MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA  UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT  KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN.

Apabila kita ingin mendapatkan sesuatu, baik masalah duniawi maupun ukhrawi, maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita tidak mampu mendapatkannya, maka kita akan minta pertolongan dari orang yang mempunyai kuasa. Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mencapai hajat kita, maka kita akan memohon pertolongan dari Allah s.w.t,  menadah tangan ke langit sambil air mata bercucuran dan suara yang merayu-rayu menyatakan hajat kepada-Nya. Selama hajat kita belum tercapai,maka kita akan terus memohon dengan sepenuh hati. Tidak ada kesukaran bagi Allah s.w.t untuk memenuhi hajat kita. 

Sekiranya Dia mengaruniakan kepada kita semua yang ada di dalam bumi dan langit, maka pemberian-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya. Andaikan Allah s.w.t menahan dari memberi maka tindakan demikian tidak sedikit pun menambah kekayaan dan kemuliaan-Nya. Jadi, dalam soal memberi atau menahan tidak sedikit pun memberi kesan kepada ke-Tuhanan Allah s.w.t. Ketuhanan-Nya adalah mutlak tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, doa dan amalan hamba-hamba-Nya.
وَيَفعَلُ اللَّهُ ما يَشاءُ  
"Dan Allah berkuasa melakukan apa yang di kehendaki-Nya" . ( Ayat 27 : Surah Ibrahim ) 
كُلٌّ لَهُ قٰنِتونَ 
 Semuanya itu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. ( Ayat 116 : Surah al-Baqarah )
 لا يُسـَٔلُ عَمّا يَفعَلُ وَهُم يُسـَٔلونَ
Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak. ( Ayat 23 : Surah al-Anbiyaa’ )
Sebahagian besar dari kita tidak sadar, bahwa kita mensyirikkan Allah s.w.t dengan doa dan amalan kita. Kita jadikan doa dan amalan sebagai penentu atau setidak-tidaknya kita menganggapnya mempunyai kuasa tawar menawar dengan Tuhan, seolah-olah kita berkata, “Wahai Tuhan! Aku sudah membuat tuntutan maka Engkau wajib memenuhinya. Aku  sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!” Siapakah yang berkedudukan sebagai Tuhan, kita atau Allah s.w.t? 

Sekiranya kita tau bahwa diri kita ini adalah hamba, maka ikhlaslah menjadi hamba dan jagalah sopan santun terhadap Tuan. Hak hamba ialah rela dengan apa saja keputusan dan pemberian Tuannya.


Doa adalah penyerahan, bukan tuntutan. Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita telah meminta pertolongan makhluk, tetapi itu juga gagal. Tidak ada pilihan lagi kecuali menyerahkan segala urusan kepada Tuhan yang di Tangan-Nya terletak segala perkara. Serahkan kepada Allah s.w.t dan tanyalah kepada diri sendiri mengapa Tuhan menahan kita dari memperoleh apa yang kita hajatkan? Apakah tidak mungkin, apa yang kita inginkan itu bisa mendatangkan mudarat kepada diri kita sendiri, hingga lantaran itu Allah s.w.t Yang Maha Penyayang menahannya dari sampai kepada kita? Bukankah Dia Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui.
أَلا يَعلَمُ مَن خَلَقَ وَهُوَ اللَّطيفُ الخَبيرُ
"Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" ( Ayat 14 : Surah al-Mulk )
 عٰلِمُ الغَيبِ وَالشَّهٰدَةِ العَزيزُ الحَكيمُ
 
Dialah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. . ( Ayat 18 : Surah at-Taghaabun )
 ما نَنسَخ مِن ءايَةٍ أَو نُنسِها نَأتِ بِخَيرٍ مِنها أَو مِثلِها ۗ أَلَم تَعلَم أَنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ
Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? ( Ayat 106 : Surah al-Baqarah )
Allah s.w.t Maha Halus (Maha Terperinci/Detail), Maha Mengerti dan Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Allah s.w.t yang bersifat demikian menentukan buat diri-Nya apa saja yang Dia salin, digantikannya dengan yang lebih baik atau yang sama baik. Dia berbuat demikian karena Dia tidak bersekutu dengan siapapun dan Dia Maha Berkuasa. 
 
Seseorang hamba senantiasa berhajat kepada pertolongan Tuhan. Apa yang dihajatinya disampaikannya kepada Tuhan. Semakin banyak hajatnya semakin banyak pula doa yang disampaikannya kepada Tuhan. Kadang-kadang berlaku satu permintaan  berlawanan dengan permintaan yang lain, atau satu permintaan itu menghalangi permintaan yang lain. Manusia hanya melihat pada satu doa, tetapi Allah s.w.t menerima kedatangan semua doa dari satu orang manusia itu. 

Manusia yang dikuasai oleh kalbu, jiwanya berbalik-balik dan keinginan serta hajatnya tidak menetap. Tuhan yang menguasai segala perkara tidak berubah-ubah. Manusia yang telah meminta satu kebaikan boleh meminta pula sesuatu yang tidak baik atau kurang baik. Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya tidak berubah kehendak-Nya. Dia telah menetapkan buat Diri-Nya:
قُل لِمَن ما فِى السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ ۖ قُل لِلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلىٰ نَفسِهِ الرَّحمَةَ ۚ لَيَجمَعَنَّكُم إِلىٰ يَومِ القِيٰمَةِ لا رَيبَ فيهِ ۚ الَّذينَ خَسِروا أَنفُسَهُم فَهُم لا يُؤمِنونَ 
"Katakanlah: ""Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?"" Katakanlah: ""Kepunyaan Allah"". Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman."  (Ayat 12 : Surah al-An’aam )
Orang yang beriman selalu mendoakan:
  رَبَّنا ءاتِنا فِى الدُّنيا حَسَنَةً وَفِى الءاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنا عَذابَ النّارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". ( Ayat 201 : Surah al-Baqarah )

Hamba yang mendapat rahmat dari Allah s.w.t, diterima doanya, dan doa tersebut menjadi induk pada segala doa-doanya. Doa yang telah diterima oleh Allah s.w.t menepis doa-doa yang lain. Jika kemudian si hamba meminta sesuatu yang mendatangkan kebaikan hanya kepada penghidupan dunia saja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari api neraka, maka doa induk itu menahan doa yang datang kemudian. Hamba itu dipelihara dari didatangi oleh sesuatu yang menggerak-kannya ke arah yang ditunjukkan oleh doa induk itu. Jika permintaannya sesuai dengan doa induk itu dia dipermudahkan mendapat apa yang dimintanya itu.

Oleh sebab itu, doa adalah penyerahan kepada Yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Menghadaplah kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya serta ucapkan, 
“Wahai Tuhanku Yang Maha Lemah-lembut, Maha Mengasihani, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana! Daku adalah hamba yang bersifat tergesa-gesa, lemah dan jahil. Daku mempunyai hajat  tetapi daku tidak mengetahui dampaknya bagiku, sedangkan Engkau Maha Mengetahui. Sekiranya hajatku ini berdampak baik bagi dunia dan akhiratku dan melindungiku dari api neraka, maka karuniakan ia kepadaku pada saat yang baik bagiku menerimanya. Jika kesudahannya buruk bagi dunia dan akhiratku dan mendorongku ke neraka, maka jauhkan ia dariku dan cabutlah keinginanku terhadapnya. Sesungguhnya Engkaulah Tuhanku Yang Maha Mengerti dan Maha Berdiri Dengan Sendiri”.
وَرَبُّكَ يَخلُقُ ما يَشاءُ وَيَختارُ ۗ ما كانَ لَهُمُ الخِيَرَةُ ۚ سُبحٰنَ اللَّهِ وَتَعٰلىٰ عَمّا يُشرِكونَ 
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).  { Ayat 68 : Surah al-Qasas }


BACA SELANJUTNYA - 6. PENGERTIAN DO'A

Senin, 27 Juni 2011

5. MATA HATI YANG BUTA



KESUNGGUHAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH DIJAMIN UNTUK KAMU, DI SAMPING TIDAK KESERIUSAN KAMU TERHADAP KWAJIBAN YANG DIPERINTAHKAN, ITU MENUNJUKKAN BUTA MATA HATI.



Hikmah 5 ini merupakan lanjutan dar Hikmah yang lalu. Imam Ibnu Athaillah menceritakan dampak dari hijab nafsu dan hijab akal yang menutup hati dari melihat kepada takdir yang menjadi ketentuan Allah s.w.t. Ada tiga perkara yang dikemukakan untuk direnungi:
  1. Jaminan Allah s.w.t. 
  2. Kewajiban hamba
  3. Mata hati yang mengenal jaminan Allah s.w.t dan kewajiban hamba.
Penyingkapan rahasia mata hati adalah penting untuk memahami Kalam Hikmah di atas. 

Mata hati ialah mata bagi hati atau bisa juga disebut pengenalan yang dimiliki oleh hati. Kadang-kadang mata hati ini dipanggil sebagai mata batin. Istilah ‘mata batin’ digunakan untuk membedakan dengan mata yang lahir, yaitu yang dimiliki oleh diri lahir. Diri lahir terbentuk dari daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit dan lain-lain.  Diri lahir ini bisa untuk melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh. Diri lahir memperoleh kehidupan dari perjalanan darah ke seluruh tubuhnya dan aliran nyawa dalam bentuk udara atau gas yang keluar masuk melalui hidung dan mulut. Jika darahnya dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran udara yang keluar masuk itu diputus, maka diri lahir akan mengalami satu keadaan di mana semua bagian terhenti tak berfungsi dan ia dinamakan mati.
Diri batin juga mempunyai susunan yang sama seperti diri lahir, tetapi dalam keadaan ghaib. Ia juga mempunyai tubuh yang dipanggil kalbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukanlah  segumpal daging yang berada di dalam tubuh. Ia merupakan hati rohani atau hati seni. Ia bukan kejadian alam kasar, sebab itu ia tidak dapat dilihat oleh pancaindera lahir. Ia termasuk di dalam perkara- perkara ghaib yang diistilahkan sebagai Latifah Rabbaniah atau hal yang menjadi rahasia ketuhanan. Apabila di dalam keadaan suci bersih ia dapat mendekati Tuhan. Ia juga yang menjadi bisikan Tuhan. Hati seni ini juga memiliki nyawa yang dibahasakan sebagai roh. Roh juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniah. Ia adalah urusan Tuhan dan manusia hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenainya.
 وَيَسـَٔلونَكَ عَنِ الرّوحِ ۖ قُلِ الرّوحُ مِن أَمرِ رَبّى وَما أوتيتُم مِنَ العِلمِ إِلّا قَليلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ""Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra': 85)

Tubuh atau hati juga mempunyai sifat yang berkemampuan mencetuskan pemahaman dan pengetahuan. Ia dipanggil akal yang juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniah yang tidak mampu diuraikan. Akal jenis ini berguna bagi pengajaran tentang ketuhanan. Tubuh lahir mempunyai kemampuan untuk mengenal perkara lahiriah. Kemampuan tersebut dipanggil penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan penyentuha, dan alat-alat yang bersangkutan ialah mata, telinga, hidung, lidah, tangan dan lain-lain. 

Tubuh atau diri batin juga mempunyai kemampuan untuk mengenal perkara ghaib dan kemampuan ini dinamakan basirah atau mata hati. Ia berbeda dari sifat melihat yang dimiliki oleh mata lahir. Mata lahir melihat perkara lahir dan mata hati syuhud atau menyaksikan kepada yang ghaib. 

Apa yang ada di sekeliling kita boleh dilihat melalui dua aspek iaitu yang nyata dilihat dengan mata lahir dan yang ghaib dilihat dengan mata hati. Jika kita ambil satu kantong gula, mata kasar melihat sejenis pasir berwarna putih. Bila diletakkan pada lidah terasalah manisnya. Ketika menikmati kemanisan itu kita seolah-olah memandang jauh kepada sesuatu yang tidak ada di hadapan mata. Kelakuan merenung jauh itu sebenarnya adalah terjemahan kepada perbuatan mata hati memandang kepada hakikat gula yaitu manis.
Bagaimana rupa manis tidak dapat diceritakan tetapi mata hati yang melihat kepadanya mengenal bahwa gula adalah manis. Jika mata lahir melihat sebilah pedang, maka mata hati akan melihat pada tajamnya. Jika mata lahir melihat kepada cabe, mata hati melihat kepada pedasnya. Jadi, mata lahir mengenal dan membedakan rupa yang lahir, sementara mata hati mengenal dan membedakan hakikat kepada yang lahir. Mata hati yang hanya berfungsi mengenal manis, tajam, pedas dan lain-lain, masih dianggap sebagai mata hati yang buta. Mata hati hanya dianggap tidak buta, jika ia mampu melihat urusan ketuhanan di balik yang nyata dan yang tidak nyata. 
Kekuatan penglihatan mata hati bergantung kepada kekuatan hati itu sendiri. Semakin bersih dan suci hati,maka bertambah teranglah mata hati. Jika ia cukup terang ia bukan saja mampu melihat kepada yang tersembunyi di balik rupa yang lahir di sekeliling kita, malah ia mampu melihat atau syuhud apa yang di luar dari dunia. Dunia adalah segala sesuatu yang berada di dalam bulatan langit yang pertama atau langit dunia atau langit rendah. Langit rendah ini merupakan dunia. Setelah alamdunia dinamakan Alam Barzakh. Meninggal dunia membawa maksud roh yang rumahnya yaitu jasad telah tidak cocok lagi didiaminya atau dipanggil sebagai mengalami kematian, dibawa keluar dari alam dunia dan ditempatkan di dalam Alam Barzakh. 
Fungsi mata hati ialah melihat yang hakiki. Mata hati yang mampu melihat dunia secara keseluruhan sebagai satu wujud akan mengenali apa yang hakiki tentang dunia itu. Oleh sebab penyaksian mata hati bersifat tidak dapat dinyatakan secara terang, maka ia memerlukan ibarat untuk mendatangkan kefahaman. Ibarat yang biasa digunakan bagi menceritakan tentang hakikat dunia ialah: 
“Dunia adalah seorang perempuan yang sangat tua dan sangat bodoh. Tubuhnya kotor dan berpenyakit, menanah di sana sini dan ada bagiannya yang sudah dimakan ulat ”. 
Begitulah lebih kurang perasaan orang yang melihat kepada hakikat dunia dengan mata hatinya. Bagaimana rupa hakikat yang menyebabkan timbul perasaan dan ibarat yang demikian tidak dapat diuraikan. 

Mata hati yang lebih kuat mampu pula menyaksikan Alam Barzakh dan mengenali satu lagi hakikat yang dinamakan keabadian, yaitu sifat hari akhirat. Kematian membinasakan jasad dan kiamat membinasakan alam seluruhnya, tetapi tidak membinasakan Roh yang padanya tergantung kitab amalan masing-masing. Ahli maksiat tidak dapat diselamatkan oleh kematian dan kiamat. Ahli taat yang tidak mendapat ganjaran yang setimpal di dunia tidak binasa ketaatannya oleh kematian dan kiamat. Tanggungjawab seseorang hamba akan terus dipikulnya setelah kematian, Alam Barzakh, kiamat, Padang Mahsyar dan seterusnya menghadapi Pemerintah hari pembalasan. Tanggungjawab itu hanya gugur setelah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil lagi Maha Mengetahui serta Maha Perkasa menjatuhkan hukuman. Inilah hakikat yang ditemui oleh mata hati yang menyelami Alam Barzakh, bukan melihat roh orang mati di dalam kubur. 
Mata hati berfungsi mengenal perkara yang ghaib. Makrifat atau pengenalan kepada keabadian atau hari akhirat akan melahirkan kesungguhan pada menjalankan amanat Allah s.w.t yaitu mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amanat itu akan terus dibawa oleh para hamba untuk diserahkan kembali kepada Allah s.w.t yang meletakkan amanat tersebut kepada mereka. Makrifat mata hati yang demikian melahirkan sifat takwa dan beramal salih. Apabila takwa dan amal salih menjadi sifat seorang hamba maka masuklah hamba itu ke dalam jaminan Allah s.w.t.
هُوَ الَّذى يُريكُم ءايٰتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُم مِنَ السَّماءِ رِزقًا ۚ وَما يَتَذَكَّرُ إِلّا مَن يُنيبُ
Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan) -Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).Q.S.Al-Ghafir: 13
Allah s.w.t berfirman dalam Hadis Qudsi:
Hamba-Ku, taatilah semua perintah-Ku, jangan mengajari Aku tentang hal yang baik untukmu.

Allah s.w.t sebagai Tuhan, Tuan atau Majikan tidak sekali-kali mengabaikan tanggungjawab-Nya untuk memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, sementara hamba-hamba pula berkewajiban mentaati Tuan mereka. Rezeki telah dijamin oleh Allah s.w.t dan untuk mendapatkan rezeki tersebut seseorang hamba hanya perlu bertindak sesuai dengan derajatnya. Jika dia seorang ahli asbab maka bekerjalah ke arah rezekinya dan jangan iri hati terhadap rezeki yang dikaruniakan kepada orang lain. Jika dia ahli tajrid maka bertawakallah kepada Allah s.w.t dan jangan gusar jika terjadi kelewatan atau kekurangan dalam urusan rezeki. 

Walau dalam makam manapun seseorang hamba itu berada dia mesti melakukan kewajiban yaitu bersungguh-sungguh mentaati Allah s.w.t dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Hamba yang terbuka mata hatinya akan percaya dengan yakin terhadap jaminan Allah s.w.t dan tidak melalaikan kewajibannya. Hamba ini akan melipat-gandakan kegiatan dan kerajinannya untuk bertakwa dan beramal salih tanpa mencurigai jaminan Allah s.w.t tentang rezekinya.

Hamba yang buta mata hatinya akan berbuat yang berlawanan yaitu dia tekun dan rajin di dalam mencari rezeki yang dijamin oleh Allah s.w.t tetapi dia lalei tanggungjawab yang diamanatkan oleh Allah s.w.t. Orang ini akan menggunakan daya usaha yang banyak untuk memperoleh rezeki yang bisa didapati dengan daya usaha yang sederhana, tetapi menggunakan daya usaha yang sedikit dengan harapan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin didapati kecuali dengan daya usaha yang gigih dan perjuangan yang hebat yaitu pahala-pahala bagi amal salih. 

Mata hati melihat kepada yang haq dalam keghaiban. Nafsu yang hanya cenderung dengan kebendaan yang nyata, menutupi yang haq itu dan akal mengadakan hujah untuk menguatkan keraguan yang tumbuh pada nafsu. Perkara ghaib disaksikan dengan keyakinan. Jika nafsu dan akal bersepakat mengadakan keraguan, kebenaran yang ghaib akan terhijab. Orang yang mencari kebenaran tetapi gagal menundukkan nafsu dan akalnya akan berputar-putar di tempat yang sama. Keyakinan dan keraguan senantiasa berperang dalam jiwanya.
BACA SELANJUTNYA - 5. MATA HATI YANG BUTA

Sabtu, 25 Juni 2011

4. ALLAH SWT MENGATUR SEGALA URUSAN


TENANGKAN HATIMU DARI URUSAN TADBIR KERANA APA YANG DIATUR OLEH SELAIN-MU TENTANG URUSAN DIRIMU, TIDAK PERLU ENGKAU CAMPUR TANGAN.

Kita bertauhid melalui dua cara, pertama bertauhid dengan akal dan keduanya bertauhid dengan hati. Bidang akal yalah ilmu dan liputan ilmu sangat luas, bermula dari pokok kepada dahan-dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penyeleaiannya. Ilmu bersepakat pada perkara pokok, bertolak ansur pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya. Jawaban kepada sesuatu masalah selalu berubah-ubah menurut pendapat baru yang ditemui. Apa yang dianggap benar pada mulanya dipersalahkan pada akhirnya. Oleh sebab sifat ilmu yang demikian orang awam yang berlarut membahas tentang sesuatu perkara bisa mengalami kekeliruan dan kekacauan fikiran.

Salah satu perkara yang mudah mengganggu fikiran ialah soal takdir atau Qadak dan Qadar. Jika persoalan ini diperbahaskan hingga kepada yang halus-halus seseorang akan menemui kebuntuan kerana ilmu tidak mampu mengadakan jawapan yang konkrit. Qadak dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu ialah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan maka ilmu itu harus disekat dan hati dibawa kepada tunduk dengan iman. Kalam Hikmat keempat di atas membimbing ke arah itu agar iman tidak dicampur dengan keraguan.

 Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada perkara ghaib dan menyerah diri secara  menyeluruh tidak akan dicapai. Qadak dan Qadar termasuk dalam perkara ghaib. Perkara ghaib disaksikan dengan mata hati atau basirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati dibungkus oleh hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang zahir tetapi kegelapan dalam keghaiban. Kegelapan nafsu itu menghijab sedangkan mata hati memerlukan cahaya ghaib untuk melihat perkara ghaib. Cahaya ghaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya roh kerana roh adalah urusan Allah s.w.t. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu ada perkaitan dengan Allah s.w.t.
للَّهُ نورُ السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ ۚ مَثَلُ نورِهِ كَمِشكوٰةٍ فيها مِصباحٌ ۖ المِصباحُ فى زُجاجَةٍ ۖ الزُّجاجَةُ كَأَنَّها كَوكَبٌ دُرِّىٌّ يوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُبٰرَكَةٍ زَيتونَةٍ لا شَرقِيَّةٍ وَلا غَربِيَّةٍ يَكادُ زَيتُها يُضيءُ وَلَو لَم تَمسَسهُ نارٌ ۚ نورٌ عَلىٰ نورٍ ۗ يَهدِى اللَّهُ لِنورِهِ مَن يَشاءُ ۚ وَيَضرِبُ اللَّهُ الأَمثٰلَ لِلنّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيءٍ عَليمٌ
 Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
( Ayat 35 : Surah an-Nur ) 
رَفيعُ الدَّرَجٰتِ ذُو العَرشِ يُلقِى الرّوحَ مِن أَمرِهِ عَلىٰ مَن يَشاءُ مِن عِبادِهِ لِيُنذِرَ يَومَ التَّلاقِ
(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat), ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min /Al-ghafir)
وَكَذٰلِكَ أَوحَينا إِلَيكَ روحًا مِن أَمرِنا ۚ ما كُنتَ تَدرى مَا الكِتٰبُ وَلَا الإيمٰنُ وَلٰكِن جَعَلنٰهُ نورًا نَهدى بِهِ مَن نَشاءُ مِن عِبادِنا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهدى إِلىٰ صِرٰطٍ مُستَقيمٍ 
صِرٰطِ اللَّهِ الَّذى لَهُ ما فِى السَّمٰوٰتِ وَما فِى الأَرضِ ۗ أَلا إِلَى اللَّهِ تَصيرُ الأُمورُ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.  
(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.   
( Ayat 52 - 53 : Surah asy-Syura )

Apabila cahaya roh berjaya menghalau kegelapan nafsu, mata hati akan menyaksikan yang ghaib. Penyaksian mata hati membawa hati beriman kepada perkara ghaib dengan sebenar-benarnya.

 Allah s.w.t telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:
اليَومَ أَكمَلتُ لَكُم دينَكُم وَأَتمَمتُ عَلَيكُم نِعمَتى وَرَضيتُ لَكُمُ الإِسلٰمَ دينًا ۚ
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. ( Ayat 3 : Surah al-Maa’idah )

Umat Islam adalah umat yang paling beruntung karena Allah s.w.t telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka dengan mengaruniakan Islam. Allah s.w.t menjamin juga  bahwa Dia ridha menerima Islam sebagai agama mereka. Jaminan Allah s.w.t itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keridhaan Allah s.w.t untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebaliknya terus berjalan mengikut landasan yang telah dibina oleh Islam. 

Islam adalah perlembagaan yang lengkap mencakup semua aspek kehidupan baik yang zhahir maupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang mesti dibuat, apa yang mesti tidak dibuat, bagaimana mau bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak mau melakukan apa-apa. Segala peraturan dan kode etik sudah dijelaskan dari perkara yang paling kecil hingga kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribadah, cara berhubungan sesama manusia, cara membagikan harta warisan, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara hukum qisas cara melakukan hubungan suami-istri, cara menyempurnakan mayat dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.

Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang penyelesaian terhadap sesuatu masalah. Segala penyelesaian telah dibentangkan, hanya tegakkan iman dan kembali kepada Islam itu sendiri niscaya segala pertanyaan akan terjawab. Begitulah besarnya nikmat yang dikaruniakan kepada umat Islam. Kita perlu menjiwai Islam untuk bisa merasa nikmat yang dikaruniakan itu.

Kwajiban kita ialah melakukan apa yang telah Allah s.w.t atur, sementara hak mengatur atau mentadbir adalah hak Allah s.w.t yang mutlak. Jika terdapat peraturan Allah s.w.t yang tidak disetujui oleh nafsu kita, jangan menghilangkan peraturan tersebut atau membuat peraturan baru, sebaliknya nafsu hendaklah ditekan supaya tunduk kepada peraturan Allah s.w.t. Jika pendapat akal sesuai dengan Islam maka yakinilah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal berseberangan dengan Islam maka akuilah bahwa akal telah tersilap di dalam perkiraannya. Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada akal pada suatu saat, dan  akan berubah pada masa yang lain, tetapi tundukkan akal kepada apa yang Tuhan tentukan yang kebenarannya tidak akan berubah.

Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qadak dan  Qadar, jiwanya akan senantiasa tenang dan damai. Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya, karena dia melihat apa yang berlaku adalah menurut apa yang mesti berlaku. Dia pula mengamalkan kode yang terbaik dan dijamin oleh Allah s.w.t. Hatinya tunduk kepada hakikat bahwa Allah s.w.t yang mengatur, sementara sekalian hamba berkewajiban taat kepada-Nya, tidak perlu masuk dalam urusan-Nya.
 Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal fikiran, tidak boleh mengurus kehidupannya dan tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupannya? Apakah orang Islam mesti menyerah bulat-bulat kepada takdir tanpa tadbir?
 Allah s.w.t menceritakan tentang tadbir orang yang beriman:
فَبَدَأَ بِأَوعِيَتِهِم قَبلَ وِعاءِ أَخيهِ ثُمَّ استَخرَجَها مِن وِعاءِ أَخيهِ ۚ كَذٰلِكَ كِدنا لِيوسُفَ ۖ ما كانَ لِيَأخُذَ أَخاهُ فى دينِ المَلِكِ إِلّا أَن يَشاءَ اللَّهُ ۚ نَرفَعُ دَرَجٰتٍ مَن نَشاءُ ۗ وَفَوقَ كُلِّ ذى عِلمٍ عَليمٌ
Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki: dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.  (Ayat 76 : Surah Yusuf )
وَلَهُ الجَوارِ المُنشَـٔاتُ فِى البَحرِ كَالأَعلٰمِ
Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.  (Ayat 24 : Surah ar-Rahmaan )
Nabi Yusuf a.s, dengan kepandaiannya, mempunyai rencana untuk membawa saudaranya, Bunyamin, tinggal dengannya. Kepandaian dan perencanaan yang pada zahirnya diatur oleh Nabi Yusuf a.s tetapi dengan tegas Allah s.w.t mengatakan Dia yang mengatur muslihat tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Kapal yang pada zahirnya dirancang oleh manusia  tetapi dengan tegas Allah s.w.t mengatakan kapal itu adalah kepunyaan-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pengajaran mengenai tadbir yang dilakukan oleh manusia.

Rasulullah s.a.w sendiri menganjurkan agar pengikut-pengikut baginda s.a.w mentadbir kehidupan mereka. Tadbir yang disarankan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah s.w.t, tidak lepas dari tawakal dan penyerahan kepada Tuhan yang mengatur pentadbiran dan perlaksanaan. Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berfikir, maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa tadbir Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperoleh oleh otak itu jika tidak dari Tuhan?  Allah s.w.t yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu. 

Tadbir yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunah. Islam hendaklah dijadikan pegangan untuk memisahkan pendapat  dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahwa sekiranya tidak karena daya dan upaya dari Allah s.w.t, pasti tidak ada apa yang dapat dilakukan oleh siapa pun. 

Oleh karena itu, seseorang mestilah menggunakan daya dan upaya yang dikaruniakan Allah s.w.t kepadanya menurut keridhaan Allah s.w.t. Seorang hamba Allah s.w.t tidak sepatutnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Apabila apa yang diaturkannya sukses menjadi kenyataan maka dia akui bahwa kesuksesan itu adalah karena  aturannya sesuai dengan aturan Allah s.w.t. Jika apa yang diaturkannya tidak menjadi, diakuinya bahwa aturannya wajib tunduk kepada aturan Allah s.w.t dan tidak menjadi itu juga termasuk di dalam tadbir Allah s.w.t. Hanya Allah s.w.t yang berhak untuk menentukan. Allah s.w.t Berdiri Dengan Sendiri, tidak ada siapa yang mampu campur tangan dalam urusan-Nya.
BACA SELANJUTNYA - 4. ALLAH SWT MENGATUR SEGALA URUSAN

LANGGANAN ARTIKEL

sufisme

Masukkan Email Anda dan Anda akan mendapatkan artikel terbaru dari sufisme news langsung di email Anda

Ayat Ilaahy

Religious Myspace Comments ASMA'UL HUSNA SLIDE

About Me

Blog Archive

 

Baner Links