gambar

Blog Archives

Twitter Sufisme News

Tampilkan postingan dengan label SUFISME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUFISME. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

SUFI, JALAN DAMAI DITENGAH KEKERASAN

Situasi dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai kekerasan yang tak henti-hentinya, berbagai upaya telah dilakukan untuk menumbuhkan perdamaian, sayangnya kekerasan masih terus berlangsung. Ajaran sufi, dapat menjadi alternative jalan damai ditengah kekerasan tersebut.

“Sekarang ini era kekerasan dan ekstrisme, tetapi kita lebih membutuhkan era spiritual, yang menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan. Ajaran sufi memberi dampak positif dalam perilaku kehidupan sehari-hari,” kata KH Said Aqil Siroj, Senin (11/7).

NU dari dulu sampai sekarang terus berkomitmen dalam memperjuangkan dunia yang damai, mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamiin. Dalam momentum harlah ke-85 ini, selain mempromosikan sufisme sebagai jalan hidup melalui konferensi Internasional Al Multaqo As Sufi, PBNU juga melakukan langkah nyata menggelar Prakarsa Perdamaian Afganistan.

“Amerika saja tidak sanggup menyelesaikan konflik di Afganistan. Kita berusaha menjembatani perbedaan dengan model tawassuth dan tawazun yang merupakan prinsip inti NU. Konflik akan hilang jika mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip itu,” tuturnya.

Ia menjelaskan, Afganistan merupakan pengikut Sunni yang bermazhab Hanafi, tetapi memiliki pandangan agama yang ekstrim. Nilai NU yang toleran dan moderat inilah yang akan dicoba digunakan sebagai media dalam penyelesaian konflik.

“Kita ingin menunjukkan kepada dunia, masih ada kelompok terbesar dunia yang membangun kebersamaan dengan prinsip toleran dan moderat, yaitu NU,” katanya.

Demikian pula, kekerasan yang terjadi di Libya, Yaman dan negara-negara Timur lainnya diakibatkan mereka kehilangan sifat tawazun dan tasamuh. “Seandainya masyarakat di Timur Tengah berfikir ala NU, ngak akan ada konflik,” tandasnya.



Sumber :www.nu.or.id
BACA SELANJUTNYA - SUFI, JALAN DAMAI DITENGAH KEKERASAN

Kamis, 21 April 2011

ARTI SULUK DAN TASAWUF (Imam Ghazaly)

Suluk berarti memperbaiki akhlak, mensucikan amal, dan menjernihkan pengetahuan. Suluk merupakan aktivitas rutin memakmurkan lahir dan batin. Segenap kesibukan hamba hanya ditujukan kepada Sang Rabb, bahkan ia selalu disibukkan dengan usaha-usaha menjernihkan hati sebagai persiapanuntuk sampai kepada-Nya (wusul).

Ada dua perkara yang dapat merusak usaha seorang salik (pelaku suluk), yaitu :
Pertama, mengikuti selera orang-orang yang mengambil aspek-aspek yang ringan dalam penafsiran dan Kedua, mengikuti orang-orang sesat yang selalu menurut dengan hawa nafsunya. Barangsiapa yang menyia-siakan waktunya,maka ia termasuk orang bodoh. Dan orang yang terlalu mengekang diri dengan waktu maka ia termasuk orang lalai. Sementara orang yang melalaikannya, dia adalah orang-orang lemah.Keinginan seorang hamba untuk melakukan laku suluk tidak dibenarkan kecuali ketika ia menjadikan Allah Swt. dan Rasul-Nya sebagai pengawas hatinya. Siang hari ia selalu puasa dan bibirnya pun diam terkatup tanpa bicara, sebab terlalu berlebihan dalam hal makan, bicara, dan tidur akan mengakibatkan kerasnya hati. Sementara punggungnya senantiasa terbungkuk rukuk, keningnya pun bersujud, dan matanya sembab berlinangan air mata. Hatinya selalu dirundung kesedihan (karena kehinaan dirinya dihadirat-Nya), dan lisannya tiada henti terus berzikir.

Dengan kata simpul, seluruh anggota tubuh seorang hamba disibukkan demi untuk melakukan suluk. Suluk dalam hal ini adalah segala yang telah dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci olehnya. Melekatkan dirinya dengan sifat wara' meninggalkan segala hawa nafsunya, dan melakukan segala hal yang berkaitan erat dengan perintah-Nya. Semua itu dilakukan dengan segala kesungguhan hanya karena Allah Swt., bukan sekadar untuk meraih balasan pahala, dan juga diniatkan untuk ibadah bukan hanya sekadar ritual kebiasaan. Karena sesungguhnya orang yang Asyiq dengan amaliahnya, tidak lagi memandang bentuk rupa zahir amalan itu, bahkan jiwanya pun telah menjauh dari syahwat keduniaan. Maka satu hal yang benar adalah meninggalkan segala bentuk ikhtiar sekaligus menenangkan diri dalam hilir mudik takdir Tuhan.

Dalam sebuah syair dinyatakan;
Aku ingin menemuinya,
Namun Dia menghendakiku untuk menghindar
Lalu kutanggalkan semua hasratku
Demi apa yang Kaukehendaki

Sirnakan semua makhluk darimu dengan hukum Allah Swt. dan binasakan hawa nafsumu atas perintah-Nya. Demikian halnya, tanggalkan seluruh hasratmu demi perbuatan-perbuatan-Nya (af'al). Dengan demikian, maka kau telah mampu menangkap ilmu Allah Swt.

Kebebasanmu dari ketergantungan dengan makhluk ditandai dengan perpisahanmu dengan mereka, kau tidak akan kembali dengan mereka, dan
kau pun tidak akan menyesali semua yang ada dalam genggaman mereka. Adapun tanda kebebasanmu dari hawa nafsu adalah dengan tidak memasang harapan yang beriebihan dari semua usahamu, dan tidak pula bergantung dengan urusan kausalitas untuk meraih sebuah kemanfaatan ataupun untuk menghindari kebinasaan. Maka kau jangan hanya bergulat dengan dirimu sendiri, jangan terlalu percaya diri, jangan mencelakan atau membahayakan dirimu sendiri. Namun, pertama-tama yang harus kau lakukan adalah menyerahkan semuanya pada Yang Berhak, agar Dia berkenan memberikan kuasa-Nya kepadamu. Seperti kepasrahanmu kepada-Nya saat kau berada dalam rahim ibumu, atau saat kau masih dalam susuan ibumu.

Sementara, tanggalnya seluruh hasrat iradah-mu. lebur dalam iradah-Nya ditandai dengan tidak adanya sifat menghendaki dalam dirimu (murid), dalam hal ini kau hanyalah sebagai obyek yang dikehendaki (murad), bahkan dalam setiap lakumu ada intervensi aktivitas-Nya maka jadilah kau sebagai obyek yang dikehendaki-Nya. Adapun aktivitas-Nya menempati semua anggota ragamu, mententramkan jiwa, melapangkan dada, menyinari wajahmu, dan memeriahkan suasana batinmu. Takdir menjadi nuansa dalam hatimu, azali senantiasa akan menyerumu. Rabb yang Maha Menguasai mengajarimu dengan ilmu-Nya, menyematkan pakaian untukmu dari cahaya
hulul, dan memposisikanmu pada derajat generasi orang terdahulu di antara para ulama yang saleh (ulu al-'ilm).

Mi'raj as-Salikin, Imam Al Gazali
BACA SELANJUTNYA - ARTI SULUK DAN TASAWUF (Imam Ghazaly)

Selasa, 19 April 2011

TIGA SUDUT PANDANG TASAWUF (Habib Luthfi Yahya)

Taswuf sumbernya ada tiga; pertama tasawuf indal akhlaq wal adab, yang kedua tasawuf indal Fuqaha; tasawuf menurut fuqaha, tasawuf inda ahlil Ma’rifat. Ini yang perlu diketahui. Tasawuf inda akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. Terutama makan; pake tangan kanan, di ajari sedini mungkin, masuk kamar mandi kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.


Yang kedua tasawuf indal fuqaha: bagimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?!  Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauhmana anda membawa  wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar  wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.  

Tasawuf inda ahli ma’rifat, nah disni banyak orang terjebak. Dalam dunia tasawuf, dalam ilmu ma’rifat  mereka yang perbendaharaannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak. Akhirnya dia memunculkan analis-analis, seolah-olah tasawuf berbau Budha tasawuf, berbau Hindu. Karena apa? Mereka tidak tahu. Ilmu ma’rifatnya saja mereka tidak  mengerti, apa sebetulnya ma’rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalis tasawuf; orang-orang yang sudah ahli Marifat, tinggi sekali, dengan bahasanya yang luar biasa. Wong dalam Tasawuf fuqaha saja mereka sudah tidak bias memahami.                   

Contoh Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliarn ilmu kalam pada waktu berkembang macem-macem faham. Dijawab dengan tasawuf fuqaha, yaitu dengan munculnya ‘Ihya Ulumiddin’.

Mengapa dalam kitab Ihya ulumiddin banyak hadits-hdits maudu’ disamping dhaif. Karena apa? Pendapatnya ahli  falasifah dijawab oleh Imam Al Ghazali dengan hadits yang maudhu saja, masih lebih baik haidits maudu’ daripada pendapat-pendapat kaum falasifah. Masih tepat, karena apa? Walaupun ini maudhu, tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma’rifat kepada Allah. Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali.

Sumber :habiblutfiyahya.net
BACA SELANJUTNYA - TIGA SUDUT PANDANG TASAWUF (Habib Luthfi Yahya)

Minggu, 17 April 2011

TASAWUF SEBAGAI SOLUSI GLOBAL

Untuk memahami makna tasawuf itu, memang diperlukan pengertian yang mendalam: yakni maknanya dalam keseluruhan keberagamaan, dan kaitannya dengan penciptaan kehidupan kemanusiaan yang lebih baik. Inilah yang disebut "tasawuf positif", sebuah tasawuf yang terbuka kepada kebutuhan-kebutuhan dasar manusia untuk pertumbuhan, keseimbangan dan harmoni. Dengan tasawuf positif ini, terbuka juga kemungkinan dialog dengan berbagai ragam spiritualitas agama-agama, maupun non-agama yang semuanya sebenarnya dewasa ini menghadapi masalah besar bersama yaitu ancaman kemanusiaan!

Macam-macam tasawuf telah berkembang mengatasi krisis global kemanusiaan. Karena itu dialog di antara sesama penganut tasawuf, walaupun dari berbagai agama, bisa Menyumbangkan wacana untuk berbagai krisis kemanusiaan. Apa yang disebut Hans Kung dengan "kebutuhan akan Etika global" tampaknya bisa dipenuhi dengan kerja sama agama-agama, dimulai dari pandangan positif terhadap hal yang paling dasar dari agamanya sendiri-the heart of religion, yaitu hakikat tasawuf itu sendiri, yang bisa mempertemukan berbagai agama. 

Dari sini kita bisa merambah kepada dialog bahkan passing over ke arah agama lain, untuk menggali dan mendapatkan kekayaan perspektif rohani.

Kalau kita mengamati perkembangan kesadaran mengenai tantangan etika global itu, perkembangan tasawuf (dalam hal ini "tasawuf antar-agama") memang telah melandasi usaha-usaha bersama mencari sebuah alternatif atas pandangan kebudayaan modern yang mekanistik, sekularistik, ke arah cara pandang yang lebih ekologis dan holistik. Di sini tasawuf bertemu dengan spiritualitas agama-agama (Hinduisme, Buddhisme, Taoisme, mistik Kristen, new age, spiritualitas dari kearifan lokal dan seterusnya), yang bersama-sama diharapkan dapat mendorong massa yang kritis untuk melihat dunia ini secara baru. Inilah yang disebut Marilyn Ferguson sebagai The Aquarian Conspiracy (konspirasi Aquarius) yang menjadi pertanda dari kebangkitan tasawuf di era milenium.

Tasawuf memang mempunyai filsafat yang begitu mendalam mengenai spiritualitas dan segi-segi religiusitas keberagamaan, sehingga harapan banyak kalangan mengenai healthy-spirituality memang bisa diperoleh dari tasawuf positif ini, di tengah ancaman "keberagamaan yang sakit" yang muncul karena otoritarianisme dalam beragama-yang dalam tasawuf digambarkan sebagai nafs ammarah bi 'l-su (nafsu yang mendorong kepada keburukan, Q. 12:53).

Tasawuf menjanjikan penyelamatan. Apalagi di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, hedonis, sekular, plus kehidupan yang makin sulit secara ekonomis maupun psikologis itu, tasawuf memberikan obat penawar rohani, yang memberi daya tahan. Dalam wacana kontemporer, sering dibahas tasawuf sebagai obat mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan, dan membuat penderitaan batin. Maka mata air tasawuf yang sejuk dan memberikan penyegaran dan penyelamatan pada manusia-manusia yang terasing itu.

Mewujudkan cita-cita ini, bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi dewasa ini tampak perkembangan yang menyeluruh dalam ilmu tasawuf dalam hubungan inter-disipliner. Beberapa contoh bisa disebut di sini, seperti pertemuan tasawuf dengan fisika, dan sains modern yang holistik, yang membawa kepada kesadaran arti kehadiran manusia dan tugas-tugas utamanya di muka Bumi-segi yang kini disebut The Anthropic Principle; pertemuan tasawuf dengan ekologi yang menyadarkan mengenai pentingnya kesinambungan alam ini dengan keanekaragaman hayatinya, didasarkan pada paham kesucian alam; pertemuan tasawuf dengan penyembuhan alternatif yang memberikan kesadaran bahwa masalah kesehatan bukan hanya bersifat fisikal, tetapi lebih-lebih ruhani: 

Tasawuf memberikan visi keruhanian untuk kedokteran, pertemuan tasawuf dengan psikologi baru yang menekankan segi transpersonal; dan lain-lain pertemuan interdisipliner yang intinya sama: semua menyumbang kesadaran bahwa arti tasawuf dewasa ini bukan hanya pada kesalehan formal, tetapi justru terutama etika global! Untuk itu tasawuf memang perlu wujud dalam cara hidup. Cara hidup tasawuf bukan terutama benar dari formalnya, tetapi bagaimana nilai-nilai tasawuf itu menjadi way of life!

Keunggulan umat Islam salah satunya adalah Ilmu Tasawwuf ini. Dengan bertasawwuf yang merupakan suatu kekuatan batin untuk mempertebal iman, tauhid, ladang amal, pembersih jiwa, serta untuk memperkuat Ihsan suatu cara untuk lebih mengenal Allah dan mencari keridloan-Nya semata maka secara otomatis akan meningkatkan akhlakul kariimah (Akhlak yang Mulia).


Menurut Prof. DR. Hamka bahwa: "Tasawwuf Islam telah timbul sejak timbulnya Agama Islam itu sendiri. Bertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu Nabi Muhammad Saw. Disauk airnya dari Qur'an sendiri". (Perkembangan Tasawwuf dari Abad ke Abad). Adapun ciri dari Sufi menurut Imam Nawawi (620-676 H/1223-1278 M) dalam suratnya al-Maqasid at-Tawhid ada lima ciri jalan sufi atau bertasawwuf yaitu: (1) menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, (2) mengikuti Sunah Rasullaah Saw. dengan perbuatan dan kata, (3) menghindari ketergantungan kepada orang lain, (4) bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, (5) selalu merujuk masalah kepada Allah swt.


Melihat perkembangan Islam di Indonesia, belakangan ini memang kelihatan ada pergeseran orientasi keberagamaan dari kesalehan formal kepada kesalehan sufistik. Persis pada titik ini "demam tasawuf" yang sedang melanda masyarakat Islam ini begitu mengkhawatirkan dan perlu mendapat perhatian. Seperti kita tahu, Islam di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa sehingga kini tampak sangat formalis dalam beragama, seolah tidak ada lagi segi religiusitasnya. Bentuk-bentuk kesalehan formal dan kesalehan individual begitu menonjol. 

Keberagamaan sangat semarak, rumah ibadah berkembang pesat di mana-mana, jumlah orang naik haji meningkat, tetapi dari segi substansial, sebagai bangsa, keberagamaan rupanya belum mencerminkan nilai-nilai Islam. Apa yang disebut egalitarianisme, keadilan, kesadaran humanitarian, hormat kepada hukum, dan hak-hak asasi manusia, kesadaran lingkungan, kebersihan, penghargaan terhadap orang yang lemah, sikap inklusif dan pluralis, dan seterusnya, yang jelas merupakan nilai-nilai dasar agama, ternyata tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat. Padahal kegairahan dalam beragama begitu tinggi, suasana keagamaan begitu mencolok.

Nah, kita sangat mengkhawatirkan demam tasawuf belakangan ini. Kalau demam tasawuf itu hanya kepanjangan saja dari kesalehan formal, lantas apa maknanya? Antara tasawuf dan bukan tasawuf tidak ada bedanya: sama-sama kesalehan formal yang tidak mencerminkan religiusitas! Demam tasawuf mudah-mudahan tidak hanya merupakan kelanjutan dari kesalehan formal, yang kalau hanya begini, ya ibarat buih dalam lautan: tidak bermakna apa-apa secara sosial!

Oleh Karena itu, Ilmu Tasawwuf khususnya di Indonesia haruslah mendapat perhatian penuh dari para alim ulama, sarjana, dan para cendekiawan muslim lainnya untuk dapat penyelidikan dan pengupasan secara luas dalam bidang Tasawwuf, untuk menciptakan mental yang Islami dan pemahaman spriritual dalam Islam untuk menjauhkan dari sifat-sifat tercela dan munafik. Sekali lagi bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil 'aalamiin.
BACA SELANJUTNYA - TASAWUF SEBAGAI SOLUSI GLOBAL

HAKIKAT TASAWUF

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisaa'(4):69)

Bagi orang yang belum mengenal apa itu Ilmu Tasawwuf atau Sufi tentu akan merasa asing untuk keduanya, karena tidak tahu orang cendrung untuk menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya bahkan sampai mengejeknya. Hal ini serupa dengan awal kedatangan Islam tempo dulu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: "Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing (orang-orang Islam)." HR. Muslim dari Abi Hurairah.


Kaum Sufi bukanlah sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja diperdebatkan, namun dalam memahami Ilmu kesufian hati perlu benar-benar bersih dan jeli untuk menangkap doktrin-doktrin yang diajarkan dalam sufi itu sendiri dengan catatan tidak melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu sebagai manusia terlalu gampang untuk mencoreng, mencela dan berprasangka buruk terhadap sesama. Dalam sebuah hadits Nabi Saw.: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta." HR. Bukhari & Muslim.


Tasawuf adalah segi batin dari agama. Segi lahirnya biasanya disebut syari'ah, yang terutama berisi hukum-hukum keagamaan formal, mengenai apa yang seorang beragama harus lakukan, dan apa yang dilarang. Tasawuf di samping memberi segi batin dari aspek formal keagamaan itu, juga memberi visi mengenai arti hidup beragama. Ibn al-Arabi seorang filsuf mistik paling terkemuka, membagi empat tingkat praktek dalam memahami tasawuf, yaitu (1) syari'ah (segi esoterik hukum-hukum agama), thariqah (sebagai jalan mistik), haqiqah (mengenai kebenaran), dan ma'rifah (gnosis, pengalaman kesatuan dengan Yang Ilahi).

Dalam keberagamaan tasawuf ini, pengertian yang mendalam mengenai "jalan hati" (the path of heart)-yang tidak lain adalah "jalan kepada cinta, the path to
love-mendapat perhatian, sehingga segi-segi psikologi-spiritual menjadi begitu penting dalam jalan ini, khususnya dalam mencapai tingkat kedirian (nafs) yang dari sini kita bisa sampai pada pengalaman kesatuan dengan yang Ilahi itu (yang disebut ihsan, yaitu "seolah-olah kita melihat Tuhan, kalaupun tidak, kita tahu bahwa Tuhan melihat kita").

Ilmu kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an dan Hadits dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar. Sejak jaman sahabat Nabi Saw. tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian sudah ada, namun nama sufi dan ilmu tersebut belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu Sufi atau Ilmu Tasawwuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri yang bersifat Keruhanian. Kontribusi Ilmu Tasawwuf ini banyak dibukukan oleh kalangan orang-orang Sufi sendiri seperti Hasan al-Basri, Abu Hasyim Shufi al-Kufi, al-Hallaj bin Muhammad al-Baidhawi, Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri, Abu Sulaiman ad-Darani, Abu Hafs al-Haddad, Sahl at-Tustari, al-Qusyairi, ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir al-Haris, as-Suhrawardi, Ain Qudhat al-Hamadhani dan masih banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.


Dalam praktek realisasi ilmu Sufi khusunya tempo dulu, mutasawwif (orang Sufi) memerlukan adaptasi yang amat sangat ketat. Hal ini agar mampu untuk menarik orang-orang yang belum masuk muslim dengan jalan tanpa kekerasan dan paksaan, dengan kata lain berdakwah yang tidak keluar dari tujuan utama yang membuktikan akan cintanya kepada Maha Pencipta yakni Allah SWT. Disisi lain orang-orang sufi menjauhkan diri dari hal keduniaan yang dapat menghijab antara hamba-Nya dengan Allah Swt dalam beribadah. Disinilah Sufi mulai mengembangkan metode-metode bagaimana cara untuk membersihkan jiwa, pembinaan lahir batin, berdzikir, mendekatkan diri pada Allah, membangun jiwa mulia dalam mengenal Allah atau ber-ma'rifat, selain itu berintrospeksi diri siapa diri ini sebenarnya, sesuai dengan hadits Nabi Saw. "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya)".


Jelas bahwa Ilmu Tasawwuf dan Sufi adalah merupakan salah satu ilmu dalam Agama Islam yang sangat halus dan mendalam yang mampu menembus alam batin serta sulit sekali untuk di ilmiahkan dan diterangkan secara kongkrit. Hal ini bukan berarti tidak dapat dibuktikan secara ilmiah namun seseorang yang memiliki kebersihan hati dan kecerdasan yang luar biasa yang mampu mecahkannya. Sebab "Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" (Islam adalah ilmiah dan amaliah) HR. Bukhari. Karena halusanya ilmu ini persoalan-persoalan didalamnya bagi orang awam dapat menimbulkan khilafiyah (perbedaan) dan pertentangan-pertentangan. Tapi inilah keindahan Islam berlomba dalam kebaikan selama tidak menyimpang dari aturan Islam.


Dalam kitab Ta'yad Al-Haqiqtul 'Aliyya hal. 57, salah seorang ulama Fiqh dan Ahli Tafsir Jalaluddin as-Suyuti mengatakan: "Tasawwuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid'ah". Sedangkan Al-Junaid seorang pimpinan tokoh Sufi Mazhab Moderat yang berasal dari Baghdad menyatakan tentang ilmu kesufian dalam syairnya: "Ilmu Sufi (Tasawwuf) adalah benar-benar ilmu, yang tidak seorang pun dapat memperolehnya; Kecuali dia yang dikarunia kecerdasan alami, dan berbakat untuk memahaminya. Tak seorang pun dapat berpura menjadi Sufi, kecuali dia yang melihat rahasia nuraninya."


Ilmu Tasawwuf dan Sufi adakalanya orang mencap sebagai ilmu kolot, ketinggalan jaman, usang, out of date, bahkan disebut aneh. Akan tetapi di balik itu semua bahwa Ilmu Tasawwuf memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa untuk lebih mengenal Tuhan serta membangun mental dan akhlak yang mulia. Yang perlu diperhatikan kenapa orang dapat menjadi sesat dan madlarat dalam mempelajari dan mengamalkan Ilmu Tasawwuf. Sehingga ia menjadi orang yang apatis atau mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat dan keluarga, meninggalkan keduniaan yang padahal di dunia ini adalah sebagai ladang amal dalam berbuat kebajikan untuk bekal di hari kemudian. Hal demikian dapat terjadi kesesatan pada diri seseorang dengan mempelajari ilmu Tasawwuf tetapi tanpa didampingi dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) dan Ilmu Fiqh.


Menurut Imam Malik ra. (94-179 H/716-795 M) menyatakan: "Man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawwuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawwuf dan fiqh dia meraih kebenaran)." Dengan demikian bahwa Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Fiqh umpama dua jemari yang tak dapat dipisahkan, dan tidak untuk diabaikan dimana keduanya sama-sama penting suatu perpaduan antara akal dan hati.


Jadi dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) atau Ilmu Tauhid, bahwa Allah SWT. itu ada dan mempercayainya sebagai Tuhan yang wajib disembah. Ilmu Kalam ini adalah Ilmu pokok-pokok kepercayaan dalam Agma Islam. Selain itu pula untuk menghindari dari kemusyrikan serta memperkuat akan Tauhidullah sebagai Esensi Aqidah Islam. Ilmu Fiqh, pemahaman tentang syariat-syariat Islam berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah yang merupakan lautan ilmu yang meluas secara horizontal. Sedangkan dalam Ilmu Tasawwuf adalah mengatur kesempurnaan hubungan dengan Allah dan juga sebagai ilmu yang mampu menembus vertikal kedalam. Dengan mempelajari ketiganya maka akan kuatlah Iman, Islam dan Ihsan kita yang merupakan kesempurnaan dalam Islam, sebagai wujud mempelajari Ilmu Tauhid, Fiqh dan Tasawwuf.


Cintanya orang orang-orang Sufi terhadap Tuhan, bagi mereka adalah suatu kenikmatan tersendiri dalam bertasawwuf, cara ini mampu membersihkan jiwa akan penyakit-penyakit hati (bathiniyah). Tapi penyelewengan dalam dunia Sufi pun dapat saja terjadi seperti halnya al-Hallaj yang mengakuinya dirinya sebagai Allah, dengan teorinya wahdat al-wujud atau pantheisme (Penyatuan Wujud) dan teori al-Hulul atau penitisan (Penjelmaan Tuhan dalam diri Manusia). Perkataan dan perbuatan al-Hallaj ini membuat marah para ahli Kalam (Tauhid), Fiqh dan masyarakat Islam, sehingga ia di hukum mati pada tahun 309 H. Di Indonesia dulu terjadi penyimpangan oleh seorang Waliyullah yaitu Syeikh Siti Jennar yang mirip dengan teori al-Hallaj, ia di hukum mati oleh mahkamah para Wali di Jawa. Namun hanya Allah-lah Yang Maha Tahu akan maksud dan hati seseorang. 
BACA SELANJUTNYA - HAKIKAT TASAWUF

Selasa, 12 April 2011

ILMU TASAWUF

Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.
Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan  ilmu Tasawuf.
Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .
Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.
Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak
Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”
Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.
Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.

Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya  i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat,  Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).
Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.

Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.

Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan  atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.
Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.
Ilmu Tasawuf itu  tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.
Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at
Pendapat syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.
Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.

Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki” (QS An-Nuur:21)
Firman Allah yang artinya,

[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.

[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47)
BACA SELANJUTNYA - ILMU TASAWUF

Selasa, 05 April 2011

PENINGKATAN AKHLAQUL KARIMAH LEWAT TASAWUF

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An Nisaa'(4):69)
Bagi orang yang belum mengenal apa itu Ilmu Tasawwuf atau Sufi tentu akan merasa asing untuk keduanya, karena tidak tahu orang cendrung untuk menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya bahkan sampai mengejeknya. Hal ini serupa dengan awal kedatangan Islam tempo dulu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: "Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing (orang-orang Islam)." HR. Muslim dari Abi Hurairah.

Kaum Sufi bukanlah sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja diperdebatkan, namun dalam memahami Ilmu kesufian hati perlu benar-benar bersih dan jeli untuk menangkap doktrin-doktrin yang diajarkan dalam sufi itu sendiri dengan catatan tidak melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu sebagai manusia terlalu gampang untuk mencoreng, mencela dan berprasangka buruk terhadap sesama. Dalam sebuah hadits Nabi Saw.: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta." HR. Bukhari & Muslim.

Ilmu kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh Al-Qur'an dan Hadits dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar. Sejak jaman sahabat Nabi Saw. tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian sudah ada, namun nama sufi dan ilmu tersebut belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu Sufi atau Ilmu Tasawwuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri yang bersifat Keruhanian. Kontribusi Ilmu Tasawwuf ini banyak dibukukan oleh kalangan orang-orang Sufi sendiri seperti Hasan al-Basri, Abu Hasyim Shufi al-Kufi, al-Hallaj bin Muhammad al-Baidhawi, Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri, Abu Sulaiman ad-Darani, Abu Hafs al-Haddad, Sahl at-Tustari, al-Qusyairi, ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir al-Haris, as-Suhrawardi, Ain Qudhat al-Hamadhani dan masih banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.

Dalam praktek realisasi ilmu Sufi khusunya tempo dulu, mutasawwif (orang Sufi) memerlukan adaptasi yang amat sangat. Hal ini agar mampu untuk menarik orang-orang yang belum masuk muslim dengan jalan tanpa kekerasan dan paksaan, dengan kata lain berdakwah yang tidak keluar dari tujuan utama yang membuktikan akan cintanya kepada Maha Pencipta yakni Allah SWT. Disisi lain orang-orang sufi menjauhkan diri dari hal keduniaan yang dapat menghijab antara hamba-Nya dengan Allah Swt dalam beribadah. Disinilah Sufi mulai mengembangkan metode-metode bagaimana cara untuk membersihkan jiwa, pembinaan lahir batin, berdzikir, mendekatkan diri pada Allah, membangun jiwa mulia dalam mengenal Allah atau ber-ma'rifat, selain itu berintrospeksi diri siapa diri ini sebenarnya, sesuai dengan hadits Nabi Saw. "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya)".

Jelas bahwa Ilmu Tasawwuf dan Sufi adalah merupakan salah satu ilmu dalam Agama Islam yang sangat halus dan mendalam yang mampu menembus alam batin serta sulit sekali untuk di ilmiahkan dan diterangkan secara kongkrit. Hal ini bukan berarti tidak dapat dibuktikan secara ilmiah namun seseorang yang memiliki kebersihan hati dan kecerdasan yang luar biasa yang mampu mecahkannya. Sebab "Al-Islaamu 'ilmiyyun wa 'amaliyyun" (Islam adalah ilmiah dan amaliah) HR. Bukhari. Karena halusanya ilmu ini persoalan-persoalan didalamnya bagi orang awam dapat menimbulkan khilafiyah (perbedaan) dan pertentangan-pertentangan. Tapi inilah keindahan Islam berlomba dalam kebaikan selama tidak menyimpang dari aturan Islam.

Dalam kitab Ta'yad Al-Haqiqtul 'Aliyya hal. 57, salah seorang ulama Fiqh dan Ahli Tafsir Jalaluddin as-Suyuti mengatakan: "Tasawwuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid'ah". Sedangkan Al-Junaid seorang pimpinan tokoh Sufi Mazhab Moderat yang berasal dari Baghdad menyatakan tentang ilmu kesufian dalam syairnya: "Ilmu Sufi (Tasawwuf) adalah benar-benar ilmu, yang tidak seorang pun dapat memperolehnya; Kecuali dia yang dikarunia kecerdasan alami, dan berbakat untuk memahaminya. Tak seorang pun dapat berpura menjadi Sufi, kecuali dia yang melihat rahasia nuraninya."

Ilmu Tasawwuf dan Sufi adakalanya orang mencap sebagai ilmu kolot, ketinggalan jaman, usang, out of date, bahkan disebut aneh. Akan tetapi di balik itu semua bahwa Ilmu Tasawwuf memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa untuk lebih mengenal Tuhan serta membangun mental dan akhlak yang mulia. Yang perlu diperhatikan kenapa orang dapat menjadi sesat dan madlarat dalam mempelajari dan mengamalkan Ilmu Tasawwuf. Sehingga ia menjadi orang yang apatis atau mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat dan keluarga, meninggalkan keduniaan yang padahal di dunia ini adalah sebagai ladang amal dalam berbuat kebajikan untuk bekal di hari kemudian. Hal demikian dapat terjadi kesesatan pada diri seseorang dengan mempelajari ilmu Tasawwuf tetapi tanpa didampingi dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) dan Ilmu Fiqh.
Menurut Imam Malik ra. (94-179 H/716-795 M) menyatakan: "Man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqh tanpa tasawwuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawwuf dan fiqh dia meraih kebenaran)." Dengan demikian bahwa Ilmu Tasawwuf dan Ilmu Fiqh umpama dua jemari yang tak dapat dipisahkan, dan tidak untuk diabaikan dimana keduanya sama-sama penting suatu perpaduan antara akal dan hati.

Jadi dengan Ilmu Kalam (Ushuluddin) atau Ilmu Tauhid, bahwa Allah SWT. itu ada dan mempercayainya sebagai Tuhan yang wajib disembah. Ilmu Kalam ini adalah Ilmu pokok-pokok kepercayaan dalam Agma Islam. Selain itu pula untuk menghindari dari kemusyrikan serta memperkuat akan Tauhidullah sebagai Esensi Aqidah Islam. Ilmu Fiqh, pemahaman tentang syariat-syariat Islam berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah yang merupakan lautan ilmu yang meluas secara horizontal. Sedangkan dalam Ilmu Tasawwuf adalah mengatur kesempurnaan hubungan dengan Allah dan juga sebagai ilmu yang mampu menembus vertikal kedalam. Dengan mempelajari ketiganya maka akan kuatlah Iman, Islam dan Ihsan kita yang merupakan kesempurnaan dalam Islam, sebagai wujud mempelajari Ilmu Tauhid, Fiqh dan Tasawwuf.

Cintanya orang orang-orang Sufi terhadap Tuhan, bagi mereka adalah suatu kenikmatan tersendiri dalam bertasawwuf, cara ini mampu membersihkan jiwa akan penyakit-penyakit hati (bathiniyah). Tapi penyelewengan dalam dunia Sufi pun dapat saja terjadi seperti halnya al-Hallaj yang mengakuinya dirinya sebagai Allah, dengan teorinya wahdat al-wujud atau pantheisme (Penyatuan Wujud) dan teori al-Hulul atau penitisan (Penjelmaan Tuhan dalam diri Manusia). Perkataan dan perbuatan al-Hallaj ini membuat marah para ahli Kalam (Tauhid), Fiqh dan masyarakat Islam, sehingga ia di hukum mati pada tahun 309 H. Di Indonesia dulu terjadi penyimpangan oleh seorang Waliyullah yaitu Syeikh Siti Jennar yang mirip dengan teori al-Hallaj, ia di hukum mati oleh mahkamah para Wali di Jawa. Namun hanya Allah-lah Yang Maha Tahu akan maksud dan hati seseorang.
**
Keunggulan umat Islam salah satunya adalah Ilmu Tasawwuf ini. Dengan bertasawwuf yang merupakan suatu kekuatan batin untuk mempertebal iman, tauhid, ladang amal, pembersih jiwa, serta untuk memperkuat Ihsan suatu cara untuk lebih mengenal Allah dan mencari keridloan-Nya semata maka secara otomatis akan meningkatkan akhlakul kariimah (Akhlak yang Mulia).

Menurut Prof. DR. Hamka bahwa: "Tasawwuf Islam telah timbul sejak timbulnya Agama Islam itu sendiri. Bertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu Nabi Muhammad Saw. Disauk airnya dari Qur'an sendiri". (Perkembangan Tasawwuf dari Abad ke Abad). Adapun ciri dari Sufi menurut Imam Nawawi (620-676 H/1223-1278 M) dalam suratnya al-Maqasid at-Tawhid ada lima ciri jalan sufi atau bertasawwuf yaitu: (1) menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, (2) mengikuti Sunah Rasullaah Saw. dengan perbuatan dan kata, (3) menghindari ketergantungan kepada orang lain, (4) bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, (5) selalu merujuk masalah kepada Allah swt.

Oleh Karena itu Ilmu Tasawwuf khususnya di Indonesia haruslah mendapat perhatian penuh dari para alim ulama, sarjana, dan para cendekiawan muslim lainnya untuk dapat penyelidikan dan pengupasan secara luas dalam bidang Tasawwuf, untuk menciptakan mental yang Islami dan pemahaman spriritual dalam Islam untuk menjauhkan dari sifat-sifat tercela dan munafik. Sekali lagi bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil 'aalamiin.

Sumber: mediaisned.org
BACA SELANJUTNYA - PENINGKATAN AKHLAQUL KARIMAH LEWAT TASAWUF

Kamis, 24 Maret 2011

WACANA SUFI MELALUI SASTRA

Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat inah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumalh contol yang

digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair:

Waktu
Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku
memberikan sesal dalam hatiku
kemudian, berlalu.

Seperti penghuni neraka
Jika kulit-kulitnya terpanggang
kembali pula kulit-kulit itu
untuk sbuah derita panjang

Bukanlah orang mati itu
istirahat seperti mayat
Kematian adalah
mati kehidupannya.
(Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq)

Haal
Kalau tidak menempati, pasti bukan Haal
Setiap yang menempati
Pasti hilang
Lihatlah bayangan sampai ujungnya
Berkurang ketika ia memanjang.
(Ungkapan salah seorang sufi)

Haibah Dan Uns
Aku datangi
Aku tak mengerti
Dari mana
Siapa
Aku
Melainkan yang dikatakan orang-orang
pada diriku, pada jenisku
Aku datangi jin dan manusia
Lalu tak kutemui siapa pun
Lantas kuatangi diriku.

Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku:
Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur
wujudnya
toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat
dan dengan manusia
Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki
Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy
Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah
Jauh dari berdzikir
Lebih pada Jin dan Manusia.
(Abu Said al-Kharraz)

Wujd (Ekstase)
Gelas yang dibasahi air
karena cemerlang beningnya
Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas
Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum
pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum
yang diwarisi ‘Aad dari negeri Iram
sebagai simpanan Kisra
Sejak nenek moyangnya.
(Abu Bakr asy-Syibly)

Jam Dan Farq
Engkau wujudkan Nyata-Mu
dalam rahasiaku
Lisanku munajat kepada-Mu
Lalu kita berkumpul bagi makna-makna
Berpisah bagi makna-makna pula
Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku
Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku.
(Junaid al-Baghdady)

Fana' Dan Baqa'
Ada kaum yang tersesat di padang gersang
Ada pula yang tersesat di padang cintanya
Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total
Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya.
(Syair yang sering dikutip para sufi).

Sadar Dan Mabuk
Kesadaranmu dari KataKu
adalah sinambung
Dan mabukmu dari bagianKu
menyilakan teguk minuman
Tak bosan-bosan peminumnya
Tak bosan-bosan peneguknya
Menyerah pada sudut piala
yang memabukkan jiwanya.

Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala
Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala
Ada dua kemabukan bagiku
dan hanya dua penyesal hanya satu
Yang diperuntuukan bagi mereka
hanya untukku.
Dua mabuk kepayang
Mabuk cinta
Mabuk abadi

Ketika siuman
Segalanya bugar kembali.
Dalam syair lain tentang Mabuk Ilahi ini para Sufi sering mengutip syair, sbb:

Pabila pagi cerah dengan kejora citanya
itulah keserasian
Antara kemabukan dan kesukacitaan.

bawah ini masih seputar Rasa Mabuk Ilahi:

Dzauq Dan Syurb

Gelas minuman adalah susuan kita
Kalau tak kita rasa
Tak hidup kita

Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah”
Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa?
Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas
Tuntas habis, tak puas pula
dahaga.
BACA SELANJUTNYA - WACANA SUFI MELALUI SASTRA

WASIAT KAUM SUFI

Sebagian guru Sufi mengatakan: Saya pernah berkata kepada Ruwaim —rahimahullah—, “Berilah saya suatu wasiat (pesan).” Ia pun memberikan wasiat, “Wahai anakku, tidak ada cara lain kecuali hanya dengan mengorbankan jiwa (ruh), jika engkau mampu melakukannya, maka silakan. Tapi jika tidak, maka jangan sekali-kali rnenyibukkan diri dengan ketidakbenaran tasawuf.”

Suatu ketika teman-temanYusuf bin al-Husain berkumpul di kediaman Yusuf —rahimahullah— kemudian mereka berkata kepadanya, “Berilah kami suatu wasiat.” Maka Yusuf berpesan, “Ikutilah semua apa yang kalian lihat dari perbuatan saya kecuali dua perkara: Janganlah kalian berhutang kepada Allah dan jangan berteman dengan orang yang congkak.”

Dikatakan kepada Sari as-Saqathi —rahimahullah—: “Berilah kami wasiat.” Maka ia berwasiat, “Janganlah kalian berhutang kepada Allah Swt. dan jangan melihat wajah pemuda yang belum tumbuh jenggotnya.”
Ada seseorang berkata kepada Abu Bakar al-Barizi, “Berilah aku wasiat.” Maka ia berwasiat, “Waspadalah terhadap kesukaan Anda, kebiasaan dan kecenderungan Anda pada hal-hal yang enak.”

Abu al-Abbas bin ‘Atha’ —rahimahullah— berkata dalam sebagian wasiatnya kepada teman-temannya, “Hati-hatilah, jangan sampai kesedihan kalian hanya karena apa yang tampak pada kalian. Kalian hendaknya mengikuti apa yang dikehendaki Allah Swt., dan bukan pada apa yang kalian inginkan.”
Dari Ja’far al-Khuldi —rahimahullah— yang berkata: Suatu ketika al-Junaid memberi wasiat kepada seseorang, dan berkata, “Dahulukan dirimu daripada keinginanmu. Dan jangan mendahulukan keinginanmu kemudian baru dirimu, maka akibatnya adalah pemborosan waktu.”

Saya menemukan dalam kitab yang ditulis Abu Said al-Kharraz —rahimahullah— ia memberi wasiat kepada seorang murid atau sahabatnya, “Saudaraku, pergaulilah sahabat Anda dengan tulus ikhlas, bergaullah dengan para pemburu dunia sekadar pergaulan. saksikan mereka dengan lahiriah Anda, tapi berbedalah dengan mereka dalam tindakan Anda dan jangan melecehkan agama Anda, menangislah bila mereka tertawa, bersedihlah di kala mereka bersenang-senang, bersungguh-sungguhlah ketika mereka santai, laparlah saat mereka kenyang, ingatlah akhirat ketika mereka ingat dunia, dan bersabarlah untuk mengurangi pembicaraan, pandangan, gerak, makan, minum dan pakaian hingga Allah Swt. menempatkan Anda di surga Firdaus dengan rahmat-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki.”

Abu Said al-Kharraz juga memberi wasiat kepada sebagian sahabatnya, “Wahai seorang murid, jagalah wasiatku ini dan senanglah dengan pahala Allah. Sebab kejelekan hanya akan kembali pada diri (nafsu) Anda, lalu Anda memperbaikinya dengan berbuat ketaatan. Anda menjauhi dan mematikannya dengan menentang keinginannya, ‘menyembelihnya’ dengan memutuskan harapan terhadap apa yang selain Allah, membunuhnya dengan perasaan malu kepada Allah Azza wajalla, dan Allah-lah yang mencukupi Anda, bersegeralah dalam melakukan segala kebaikan, dan ketika Anda berbuat dalam segala tingkatan spiritual, hati Anda merasa takut bila apa yang Anda lakukan tidak diterima-Nya. Inilah hakikat penerimaan, keikhlasan dan kejujuran hingga akhirnya Anda bisa bersih, murni dan kembali kepada Allah Swt. Sementara itu Allah Swt. melakukan apa saja yang Dia inginkan dan memberi pijakan dengan apa yang Dia kehendaki.”

Sebuah wasiat yang pernah disampaikan Dzun-Nun kepada thagian sahabatnya, dimana ia mengatakan, “Saudaraku, perlu Anda ketahui, bahwa tiada kemuliaan yang mengungguli Islam, tiada kehormatan yang lebih terhormat daripada ketakwaan, tiada akal yang lebih terpelihara daripada sikap wara’, tiada penolong (pemberi syafaat) yang lebih bisa menyelamatkan daripada tobat, tiada pakaian yang lebih agung daripada ampunan (atlat), tiada pelindung yang lebih kokoh daripada keselamatan, tiada gudang simpanan harta yang lebih mencukupi daripada merasa puas dengan apa yang ada (qana‘ah) dan tiada harta yang lebih bisa menghilangkan kerniskinan daripada rela dengan apa saja yang bisa mengganjal rasa lapar. Barangsiapa merasa cukup dengan bekal rezeki sekadar mencukupi kebutuhannya maka ia benar-benar telah mengatur ketenangan hidup. Sementara itu banyak keinginan merupakan kunci kelelahan dan kendaraan kesengsaraan, ketamakan adalah faktor pendorong untuk membabi buta dalam melakukan dosa, sedangkan kerakusan adalah yang mengumpulkan segala kejelekan dan aib. Sudah cukup banyak ketarnakan yang bohong, cita-cita yang tak tercapai dan harapan yang hanya mengakibatkan nasib buruk dan usaha mencari keuntungan yang hanya berakhir pada kerugian.”

Sementara itu, al-Junaid pernah berwasiat kepada sebagian sahabatnya, “Saya berwasiat kepada Anda untuk tidak melirik pada kondisi yang telah berlalu ketika tiba kondisi yang ada sekarang.” Al-Junaid berkata: Saya pernah berkata kepada Abu Abdillah al-Khayyath ad-Dinawari, “Berilah aku wasiat.” Lalu ia berkata, “Saya berwasiat kepada Anda dengan suatu sifat tertentu dimana saya tahu, bahwa sifat itu tidak akan disertai oleh cacat yang lain.” Lalu saya bertanya. “Sifat apakah itu?” Ia menjawab, ‘Anda menuturkan kebaikan saudara Anda ketika ia tidak hadir dan mendoakan untuk keselamatannya.”

Diceritakan dan Abu Bakar al-Warraq —rahimahullah— yang mengatakan, “Saya menjual kemuliaan karena menginginkan kemuliaan dan membeli kehinaan karena takut hina. Inilah balasan bagi orang yang melanggar wasiat Allah Swt.”

Ada seseorang datang ke Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka Dzun-Nun berwasiat kepadanya, “Saya berpesan kepada Anda, bila Anda dibantu dalam kekuatan ilmu gaib dengan tauhid yang benar, maka sebenarnya itu telah ada sebelum Anda diciptakan, sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga sekarang ini, yaitu doa para nabi dan rasul. Maka itu lebih baik bagi Anda, jika Anda tidak demikian, lalu bagaimana panggilan dapat menyelamatkan orang-orang yang tenggelam?”

Saya mendengar Abu Muhammad al-Mahiab bin Ahmad bin Marzuq al-Mishri berkata: Ketika kematian siap menjemputAbu Muhammad al-Murta’isy, ia sempat berwasiat kepadaku agar aku melunasi hutangnya sebanyak delapan belas dirham. Setelah jenazahnya dikebumikan, maka pakaian yang biasa ia pakai dihargai delapan belas dirham, aku pun menjualnya dengan harga delapan belas dirham. Sehingga klop untuk melunasi hutangnya. Saat itu beberapa guru Sufi berkumpul kemudian mengambil kantong yang biasa digunakan menyimpan barang dagangan al-Murta’isy, di mana dalam kantong tersebut berisi gamis. Kemudian masing-masing mengambil potongan kain itu lalu mereka pergi.”

Ada seseorang datang kepada Ibrahim bin Syaiban —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Ibrahim pun memberinya wasiat, “Ingatlah kepada Allah Swt. dan jangan sekali-kali melupakan-Nya, jika Anda tidak bisa melakukan hal itu maka jangan lupa akan kematian.”
Dikatakan kepada sebagian guru Sufi, “Berilah aku wasiat.” Maka ia memberi wasiat, “Hapuslah nama Anda dari daftar nama para qari’ (orang yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik).”

Sementara itu Abu Bakar al-Wasithi pernah diminta untuk memberi wasiat, lalu ia berwasiat, “Hitunglah nafas dan waktu Anda. Wassalam.”
Dan yang lain juga berwasiat, “Meminimalkan kepentingan, merendah dan menyusul Allah Azza wajalla.”

Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: Ketika aku berjalan di gunung al-Muqthim tiba-tiba seseorang berada di depan pintu gua, lalu ia berkata, “Mahasuci Tuhan Yang telah mengosongkan hatiku dari perasaan putus asa dan mengisinya dengan harapan. Putus asa dari-Nya telah memisahkanku denganNya, sedangkan harapan kepada-Nya telah mengantarkanku kepada-Nya, maka aku selalu berharap kepada-Nya.” Ternyata orang tersebut telah banyak sengsara dalam beribadah dan banyak ‘terlukai’ oleh zuhud. Kemudian aku mendekatinya, tapi ia keburu pergi meninggalkanku. Lalu aku membuntutinya dan berkata kepadanya, “Berilah aku wasiat.” Ia pun memberi wasiat, “Ingatlah, janganlah Anda putus harapan kepada Allah walau sekejap mata, kumpulkan antara kenikmatan dan sengsara, sambunglah hubungan antara Anda dengan Allah, tentu Anda akan melihat kebahagiaan di saat orang-orang yang tidak benar merasakan kekecewaan.” Kemudian aku berkata lagi, “Tolong tambahkan lagi.” Ia menjawab, “Cukup, dan cukup untuk Anda.”

Seseorang berkata kepada Dzun-Nun, “Bekalilah aku suatu kalimat.” Kemudian ia berkata, “Janganlah Anda mengutamakan keraguan daripada keyakinan, jangan rela terhadap diri Anda tanpa adanya ketenangan, dan jika Anda tertimpa musibah maka terimalah dengan kesabaran yang tulus, sandarkan harapan Anda kepada Tuhan Yang Mahaabadi lagi Mahatahu, tentu Anda akan menemukan harapan yang besar, gunakan kesempatan untuk berhubungan dengan Allah Swt., karena sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang apabila mereka mencintai-Nya maka merasa terhibur, dan ma’rifat dengan-Nya lalu mereka banyak berharap kepada-Nya atas ma’rifatnya, bermunajat kepada-Nya pada tingkat ‘ainul-yaqin, sehingga mata hatinya tinggi menuju Dzat Yang Mahaagung, Mulia Kekuasaan-Nya, lalu mereka disirami dari manisnya bermunajat kepada-Nya, disuapi dari lezatnya keikhlasan.

Tangis mereka akan menggema di sekitar Arasy dan rintihan doa mereka berdesing di pintu-pintu langit, karena cepat terkabulkannya doa mereka.”
Al-Junaid dalam beberapa wasiatnya mengatakan, “Saudaraku, beramallah, dan bersegeralah sebelum kematian segera menjemput Anda, cepat-cepatlah sebelum ia lebih cepat memanggilmu. Sementara itu, Allah Swt. telah memberi Anda nasihat dan kejadian-kejadian teman-teman Anda yang telah mendahului Anda, sahabat-sahabat Anda yang sudah dihijrahkan dan alam dunia menuju ke alam baka, maka pelajaran itulah bagian Anda yang masih tersisa dan yang sangat bermanfaat bagi Anda. Bila tidak demikian, maka celakalah Anda. Inilah nasihat dan wasiatku kepada Anda, terimalah mudah-mudahan Anda bisa memuji masalahnya dengan menerima nasihat itu, dan beruntung bila Anda mengamalkannya. Wassalam.”

Demikianlah sekilas wasiat kaum Sufi dan berbagai kekhususan tujuan mereka dalam berwasiat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Sumber : sufinews.com
BACA SELANJUTNYA - WASIAT KAUM SUFI

Senin, 21 Maret 2011

PENDDIKAN SUFI PADA ANAK-ANAK KITA

Berbagai pertanyaan muncul dari kalangan orang tua, yang berhasrat agar jiwa anak-anaknya tumbuh dalam pantulan Cahaya Allah Hasrat yang sungguh wajar dan mulia, karena anak-anak kita adalah diri kita di masa depan, harapan-harapan kesalehan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai generasi yang “Qurrotu A’yun” (menyejukkan matahati)

Kemudian generasi itu disebut sebagai anak-anak saleh. Sebuah figur kesalehan bukan pada ornament pakaian, bukan pula pada disiplin mereka belajar, juga bukan pada kepandaiannya membaca Qur’an, kepiawaiannya menghafal doa-doa. Namun justru tertumpu pada naluri-naluri jiwa yang tumbuh dengan penuh kebajikan, kepekaan terhadap nuansa Ilahiyah, dan kesadarannya terhadap akhlaq ibadah.

Mari kita tengok sejenak anak-anak kita yang tersebar di sekolah-sekolah, mulai SD sampai SMA, mulai Madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Aliyah, berapa persen dari mereka yang masih mendoakan kedua orang tuanya setiap habis sholat?

Coba bayangkan, ketika pagi hari saat matahari mulai memancarkan cahayanya di bumi, berjuta-juta anak sedang bersiap menuju sekolah, tinggal berapa persen diantara mereka yang pamit pada kedua orang tuanya sembari mencium telapak tangannya dengan rasa hormat dan patuh?
Lebih menyakitkan lagi, tinggal berapa dari sekian juta anak-anak kita yang masih mencintai pelajaran agamanya dan bahkan memprioritaskan pelajaran agama dibanding pelajaran lainnya?

Sementara sampah gaya hidup modern, televisi, game, facebook, sms di HP, sudah merampok hati anak-anak kita. Lalu berjuta-juta anak-anak kita seperti robot, terseret oleh teknologi komunikasi dan permainan yang membuat kreativitas psikhologisnya terganggu?
Alangkah nestapanya jika bertahun-tahun situasi itu berlalu tanpa koreksi yang fundamental atas dunia pendidikan kita.

Pendidikan di sekolah, pendidikan di tengah keluarga, pendidikan di masjid-masjid, pasang surut tanpa ada jedah refleksi untuk merenungkan kembali, “Mau dibawa kemana 20 tahun lagi anak-anak kita nanti?”.

Dua puluh dua tahun silam ketika 3000 guru agama se Kota Sukabumi dikumpulkan oleh Walikotanya, di Stadion kota itu, saya mendengar pertanyaan kepada mereka (para guru Agama), “Apakah bapak-bapak dan ibu guru, ada yang mendoakan murid-muridnya setiap habis sholat?”. Mereka terdiam hening. Ya, para guru agama saja, sedang lalai mendoakan para muridnya setiap mereka berdoa.

Pantaslah jika para siswa kita, kehilangan “Bapak Spiritual” di sekolah, sedangkan di rumah, ayah bundanya sibuk bekerja. Siapa yang bertanggung-jawab kelak di akhirat nanti?

Doa Sang Sufi
Coba kita ambil pelajaran dari doa sang Sufi. “Oh Tuhan, jadikan anak cucuku sampai akhir zaman nanti, anak-anak yang soleh dan solihah, hidupnya manfaat dunia akhirat, diberi tetap iman, terang hati dan selamat dunia akhirat.” Doa pendek yang dahsyat, yang menggetarkan jiwa kita semua.
Generasi soleh dan solihat, generasi yang manfaat dunia akhirat, adalah konsep agung yang mesti kita terjemahkan dalam dunia pendidikan kita. Dan semua harus kita mulai dari lingkungan paling dekat kita: keluarga, sekolah, tempat-tempat dan wilayah kreativitas mereka.

Para Sufi mengenalkan Allah kepada anak-anaknya sejak dalam kandungan. Memperdengarkan suara-suara dzikrullah, sementara detak jantung ibundanya yang mengandung terus mendetakkan Allah Allah Allah. “Awwaluddiin Ma’rifatullah”. Mengenal Allah itu awal agama, dasar agama, mengenalkan Tauhid, disertai perilaku kebajikan yang luhur.

Ketika anak lahir ke dunia, suara adzan dan iqomah sudah dibunyikan di kedua telinganya. Sejak itulah, para Sufi mengajari bicara sang bayi, dengan bunyi-bunyian Ismu Dzat, agar kata yang pertama kali bisa diucapkan oleh sang bayi adalah kata Allah.

Sang bayi berkembang menjadi anak dengan segenap pertumbuhan. Dengan segala kepasrahannya kepada Allah, kedua orang tuanya mendidik anak itu, tanpa memaksakan harus menjadi Ulama atau Kiai.

Namun, rasa cinta kepada Allah dan RasulNya, adalah atmosfir yang terus diliputkan dalam setiap pertumbuhan usianya. Ia tumbuh ibarat sebuah pohon “Syajarah Toyyibah”. Apa pun, mulai dari akar, ranting, batah tubuh pohon itu, daun, bunga dan buahnya senantiasa menjulang ke wilayah Samawat (Langit-langit Kebajikan dunia akhirat).

Pendidikan sholat, pembentukan karakter, membangun jiwa besar dalam dirinya, baru kemudian hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan otak rasionalnya. Orang tua mencintai dan menyayangi anak, bukan karena rasa sayang ansich, sebagaimana umumnya orang tua mencintai anak. Namun, cinta kepada anak karena cintanya kepada Allah swt. Bukan mencintai anak untuk mencintai Allah. Namun mencintai Allah, dan pantulan cinta kepadaNya itu bertabur ke anak-anak mereka hingga ke akhirat.

Sejak kanak-kanak – oleh karenanya – mereka terus diingatkan untuk mendawamkan Ismu Dzat dalam hatinya. Dengan berbagai cara, orang tua mengingatkan mereka itu. Kelak ketika mereka tumbuh di masa depan, dengan lingkungan beragam seperti apa pun, kepekaan kepada Allah akan terus berjalan, sekaligus mengontrol jiwanya.

Namun, tugas berat bagi kedua orang tua, bukan saja menyiapkan mental ruhani mereka, kecerdasan jiwa mereka, bahkan pada satu sisi hadirnya anak-anak bisa menjadi cobaan bagi iman mereka. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian.”

Ujian harta selalu muncul ketika, manusia mulai mencintai harta itu. Lalu ia menjadi budaknya. Begitu juga ujian anak muncul ketika seseorang mencintai anak itu, dan merebut hatinya dari cintanya kepada Allah swt. Kecemburuan Allah menimbulkan cobaan, yang tak lain hanya untuk mengngingatkan “Kisah Cinta Ilahiyah”nya, jangan sampai ternoda.

Disinilah Cinta pada Allah menimbulkan tanggung-jawab terhadap keberlangsungan regenerasi manusia, agar generasi berikutnya juga mencintai Allah, karenanya, cinta kepada anak biar sebagai pantulan atau akibat cahaya cinta anda kepada Allah Azza wa-Jalla.

Sebuah cinta penuh penyelamatan, karena memang pendaran cahayanya bermuatan daya keluhuran dariNya, dan semua itu memang harus kita pinta dalam doa-doa dan munajat kita. Sebab tanpa Tarikan Tangan ‘InayahNya, dan ketersingkapan HidayahNya, segalanya hanya sia-sia belaka. Semoga Allah SWT melindungi kita semua. AMIN

dikutip dari : sufinews.com
BACA SELANJUTNYA - PENDDIKAN SUFI PADA ANAK-ANAK KITA

Sabtu, 19 Maret 2011

PERJALANAN MENUJU DUNIA TASAWUF

Tasawuf Islam terbagi menjadi dua bagian. Pertama, berkaitan dengan pemeliharaan dan pembersihan jiwa. Berhias dengan budi yang luhur lagi sempurna. Dalam bahasa istilah disebut Ilmu Mu'amalah.

Pada bagian ini menjadi titik pusat akhlak dan ilmu ruhani, bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, orang-orang sufi adalah guru besar ilmu ruhani di dunia ini, Mereka benar-benar memahami dan mendalami penyakit ruhani serta pemusnahnya, sehingga berhasil menyingkap hijab (tabir) penutup ruhani.

Sekalipun Eropa telah menggunakan peralatan moderen di dalam ilmu jiwanya, dan di bawah teori-teorinya berhasil membuka ikatan-ikatan jiwa, akan tetapi masih saja tidak mampu mengentasnya dari kebodohan bertingkat atau berganda. Berbeda dengan orang-orang sufi yang telah menemukan sesuatu yang lebih mengagumkan dalam persoalan ruhani mereka. Mereka berhasil menggapai pengetahuan yang sempurna. Mereka bawa terbang tinggi menerobos medan cahaya yang bersinar terang, menuju fithrah serta teladan yang membangkitkan kemanusiaan yang mulia nan suci, yang tidak mengenal pertikaian dan saling mencela, tidak mengenal dnegki, marah, dan permusuhan, tidak pula mengenal kefasikan, perdebatan dan dekadensi moral.

Kedua, berkaitan dengan penggemblengan ruhani, ibadah dan mahabbah (cinta), beserta segala aktifitasa yang ada dalam ibadah dan mahabbah. Yaitu pribadi yang bersih bersinar, munculnya ilham dan anugerah Ilahi.

Dalam meneliti bagian kedua ini ada beberapa syarat. Syarat utama ialah mendalami al-Quran dan as-Sunnah. Ia disebut Thariq (jalan) dan terdiri dari empat perjalanan.

1. Perjalanan gerak (amaliah) lahir, yaitu perjalanan ibadah dan berpaling dari gemerlap dunia. Membersihkan diri dari daya tarik dunia. Menyendiri (uzlah) untuk beribadah, dzikir dan istighfar serta selalu melaksanakan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.

2. Perjalanan amaliah batin dan senantiasa menelitinya, dengan memurnikan akhlak, menyucikan hati, menyucikan ruh, mengintai dan menekan nafsu, berhias dengan akhlak dan sifat-sifat yang suci serta perilaku yang senantiasa memancar dari Nur Muhammad.

3. Perjalanan penggemblengan dan training jiwa. Dalam hal ini Rasulullah pernah memberikan ilustrasi dalam sabdanya, "Kita telah kembali dari jihad kecil, menuju jihad akbar." Dengan ujian yang akbar ini, kekuatan dan kekuasaan ruh akan semakin bertambah. Jiwa lalu memisah dari debu-debu, menjadikannya bersih murni, hingga hakikat dan rahasia alam terpateri di dalamnya. Cahaya Ilahi memancar di dalam hatinya. Nampak keindahan dan kebesaran alam, kehalusan dan rahasianya. Dengan demikian bangkitlah rasa, yang kemudian membentuk gerak hidup dalam indera yang umum, yang dapat merasakan kelezatan yang tinggi. Ilmu yang cemerlang di dalam jiwa ini lalu menjadi sifat yang tetap, berikut terbukanya tabir penutup secara sedikit
demi sedikit sehingga sampailah keoada ridha dan cahaya utama.

4. Perjalanan menuju fana yang sempurna. Yaitu dengan sampainya ruh kepada tingkat menyaksikan Allah dengan sebenarnya. Terbuka (kasyaf)nya alam yang samar dan rahasia-rahasia Allah. Kemudian silih berganti muncul cahaya dan terbukanya tabir, hingga kelezatan jiwa dengan ketenteraman. Puncaknya adalah bayangan suci di hadapan Ilahi.

Perjalanan-perjalanan spiritual itu tidak dapat di tulis atau diceritakan, karena berada di luar bayangan dan fantasi manusia, di alam mana Allah SWT Maha Agung dan tercinta dapat dilihat mata hati. Benar-benar pemandangan yang di luar kerja mata wadak. Tiada pernah didengar oleh telinga dan tidak sekalipun terbersit di dalam sanubari.

Perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat berbahaya. Pernah seorang sufi kehilangan keseimbangannya, kehilangan ingatan, dan akhirnya terjerumus kepada kondisi yang memang sudah menjadi suratan takdir.

Adapun bagi mereka yang telah sampai dan berhasil bertahan di sana. Sungguh dia telah memperoleh kemantapan beribadah, penyaksian yang luhur, kenyenyakan yang melelapkan jiwa, tenteram dan menguasai alam.

Sahal bekata, "Seseorang yang berhasil menemukan jati dirinya, adalah orang yang salat di tempat terbuka. Ketika selesai dari salatnya, bubarlah pula bersamanya beribu-ribu malaikat yang ia saksikan."

Sementara Ibnu Abqari mengatakan, "Seseorang yang benar-benar menemukan jati dirinya, adalah orang yang salat di tempat terbuka. Begitu bubar dari salatnya, tidak satupun malaikat yang mengikuti orang tersebut, karena tidak tahu kemana perginya."
BACA SELANJUTNYA - PERJALANAN MENUJU DUNIA TASAWUF

PENGARUH TASAWUF DALAM PERKEMBANGAN ISLAM

Tasawuf memiliki pengaruh cukup kuat di dalam disiplin ilmu Islam lainnya. Ia merupakan bibit keharuman dalam Islam. Sebab menjadi inti cahaya (Nur)Muhammad, merupakan pengajaran jiwa dan ruhaninya. Ia juga memiliki andil cukup besar dalam mengungkap makna-makna Al-Quran dan hadis Nabi.

Di dalam pengetahuan Islam sendiri, tasawuf merupakan kekuatan yang besar meski harus menghadapi serangan bertubi-bertubi dari sayap kanan dan kiri. Tasawuf merupakan khazanah besar sepanjang penggalian pengetahuan alam.

Bisa dikatakan tasawuf telah berhasil mementahkan filsafat materialisme yang melanda dan menyerang dunia timur. Menghentikan gelombang kekufuran, paham-paham sesat yang telah menggenangi alam Islam semenjak kemunculannya.

Tasawauf telah berhasil menyumbangkan andilnya yang tidak sedikit dalam perluasan Islam. Ia ikut menaklukan bangsa-bangsa yang yang selama ini masih belum tersentuh Islam (hal ini memang diperlukan dalam periode Islam pertama, karena-ketika itu-obyek dakwah masih asing melihat Islam, dan cenderung memusuhinya, ed...), atau belum dapat dibangunnya sentral dakwah di tengah-tengah mereka. Lambat laun kaum sufi berhasil menembus jantung Afrika, dataran Asia dan hampir merata di kepulauan teduh. Merekalah yang berhasil menempatkan Islam di hati umat manusia, dengan kelemahlembutan dan kasih sayang yang mereka kedepankan kepadanya. Merekalah yang berdiri di hadapan umat, mengobati kebobrokan mental, dan meringankan bencana hidup, serta menyelamatkan anak manusia dari jurang kesesatan dan kebimbangan. Mereka berani menghadapi para khalifah, juga para pejabat pemerintah, guna menegakkan keadilan di antara para pemimpin tersebut.

Dalam buku filsafat Islam, Edward Ross mengatakan,"Munculya kelompok sufi yang menyebar di dalam Islam, adalah karena adanya pemahaman hubungan rindu yang kuat dengan Tuhan yang Pengasih dan Penyayang, yang mengalirkan cinta."

Tanggapan yang tepat. Karena tasawuf merupakan media yang mengajarkan kepada manusia tentang cinta, menunjukkan hati akan adanya rindu, serta setia kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Adalah suatu yang ganjil apabila melupakan budaya tasawuf yang nyata-nyata mempersembahkan nilai positif yang tinggi. Tasawuf merupakan pengisi sisi kosong kalbu muslim, mengajarkan cinta, membentangkan kemurnian, dan melarutkan kesucian dalam kehidupan.

Tasawuf benar-benar berhasil mendirikan perguruan tinggi di jantung dunia Islam beratus tahun sebelum berdirinya perguruan lainnya. Dengan demikian, madrasah atau perguruan-perguruan milik para tokoh tasawuf dan pengikutnya menjadi madrasah atau perguruan percontohan yang bergerak sendiri di planit bumi. Ia merupakan akademi ilmiah dimana para gurunya menerima cahaya dari Allah. Mereka terbangkan hati ke langit cinta. Di dalam akademi tersebut juga mereka tuangkan ilmu kepada para pengikut yang sekaligus sebagai muridnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa, metode pendidikan mental dan akhlak masing-masing para tokoh sufi dan pengikutnya di sekolah tinggi mereka itu, menjadi metode pendidikan tertinggi di dunia. Sebab, pendidikan mereka mempunyai tujuan yang paling terpuji, semenjak terbentuknya belajar mengajar antara guru dan anak didiknya.

Para penyair tasawuf telah berjasa dalam mengangkat prosa sebagai salah satu bentuk di antara disiplin ilmu yang ada. Prosa-prosa karya mereka menjadi senjata di dalam aktifitas dakwah, memperbaiki warna kehidupan, serta sedikit demi sedikit meredam kebrutalan (vandalisme) dan kebiadaban serta setiap gerak yang mengarah kepada prilaku amoral.

Khazanah tasawuf dalam bentuk prosa merupakan satu kebanggaan tersendiri, yang pena-pena lain tiada mampu menyainginya, karena karya-karya mereka benar-benar cemerlang, mencakup seluruh arah hasil karya penulis prosa lainnya.

Penulis cerita misalnya, banyak mengambil materi dari kehidupan Rabiah al-Adawiyah. Sudah lima puluh lebih buku cerita mengupas tentangnya. Juga hikayat Hallaj dan kematiannya. Petualangan Muhyiddin Ibnu Arabi. Perubahan drastis yang terjadi pada diri Ibrahim bin Adham, dari seorang yang serakah dunia dengan segala macam hobi negatifnya, menjadi tokoh iman dan amal salih.

Pelajar ilmu jiwa dan sosial telah menemukan perilaku sempurna pada diri al-Jilani ad-Dasuqi dan Al-Busthami. Yang menentukan taat dan maksiat, keluar dari satu sumber dalam bentuk yang berbeda. Dia juga menentukan risalah cinta bagi setiap yang hidup, bahkan juga terhadap benda-benda mati.

Tidakkah pada benda-benda mati itu terdapat kehidupan? Tidakkah benda-benda mati itu juga memuji dan menyucikan Tuhannya? Tidakkah bebatuan juga ada rasa takut terhadap Allah?

Pada Ibnu al-Farid, Al-Junaid, Dzunnun dan orang-orang yang meneladaninya, terdapat tentang iman, suka cita makrifat dan mabuk kepayang cinta.

Tasawuf adalah dunia sempurna. Di dalamnya terdapat ilmu, akhlak, pengetahuan, filsafat, fiqh, usul, kisah-kisah serta segala macam yang diperlukan pada pendalaman ilmu, budi pekerti, kabahagiaan, kelezatan, ketentraman, kebahagiaan yang harum. Darinya mengalir cinta dan sukacita.

Tasawuf adalah tata krama kesopanan yang tinggi lagi sempurna. Ilmu yang tidak memendam keraguan, bahkan menjadi cahaya petunjuk, taat dan iman.

Pernah Abu Muhammad bin Yahya mendengarkan perbincangan orang -orang sufi, dia lantas keluar dari forum seraya berbisik, "Kata-kata mereka itu datang dari Allah. Ada unsur paksaan dari Dzat yang tiada pernah berbohong."

Perhatikan salah satu goresan Hasan al-Bashri di bawah ini:

"... Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba. Sebagaimana orang yang melihat ahli surga, kekal di dalamnya, atau orang melihat ahli nereka, yang juga kekal di dalamnya. Hati mereka sedih, perilaku jahat mereka aman terkendali, kebutuhan mereka ringan, jiwa mereka bersih, bersabar pada sejumlah hari yang pendek, kemudian disusul kelegaan yang panjang. Adapun malam hari, adalah saat-saat mengheningkancipta, air mata meleleh membasahi pipi, sambil berdoa kepada Allah "Ya Tuhan ... Ya ... Tuhan." Sedang di siang hari, mereka dalah orang-orang arif yang alim. Orang-orang yang suci lagi bersih seperti kuncup bunga. Orang menyangka mereka sedang sakit, meski mereka sebenarnya tidak sakit. Atau menganggap pikiran mereka sedang kacau. Benar, mereka memang sedang kacau. Kacau oleh cintanya kepada Tuhan dan mengingat akhirat. Dan hal itu adalah luhur."
(Hasan al-Bashri)
BACA SELANJUTNYA - PENGARUH TASAWUF DALAM PERKEMBANGAN ISLAM

Senin, 07 Maret 2011

HAKIKAT TASAWUF (dr. Yusuf Al-Qardhawi)


Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian rohaniah, ubudiah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.

Agama-agama di dunia ini banyak sekali yang menganut berbagai macam tasawuf, di antaranya ada sebagian orang India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri sendiri
demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya.

Dalam agama Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin. Di Persia ada aliran yang bernama Mani'; dan di negeri-negeri lainnya
banyak aliran ekstrim di bidang rohaniah.

Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling baik di antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah serta penggunaan akal.

Maka, insan itu sebagaimana digambarkan oleh agama, yaitu terdiri dari tiga unsur: roh, akal dan jasad. Masing-masing dari tiga unsur itu diberi hak sesuai dengan kebutuhannya.
Ketika Nabi saw. melihat salah satu sahabatnya berlebih-lebihan dalam salah satu sisi, sahabat itu segera ditegur. Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin
Ash. Ia berpuasa terus menerus tidak pernah berbuka, sepanjang malam beribadat, tidak pernah tidur, serta meninggalkan istri dan kewajibannya. Lalu Nabi saw.
menegurnya dengan sabdanya:

"Wahai Abdullah, sesungguhnya bagi dirimu ada hak (untuk tidur), bagi istri dan keluargamu ada hak (untuk bergaul), dan bagi jasadmu ada hak. Maka, masing-masing ada haknya."

Ketika sebagian dari para sahabat Nabi saw. bertanya kepada istri-istri Rasul saw. mengenai ibadat beliau yang luar biasa. Mereka (para istri Rasulullah) menjawab, "Kami amat
jauh daripada Nabi saw. yang dosanya telah diampuni oleh Allah swt, baik dosa yang telah lampau maupun dosa yang belum dilakukannya."

Kemudian salah seorang di antara mereka berkata, "Aku akan beribadat sepanjang malam." Sedang yang lainnya mengatakan, "Aku tidak akan menikah." Kemudian hal itu sampai terdengar
oleh Rasulullah saw, lalu mereka dipanggil dan Rasulullah saw. berbicara di hadapan mereka.

Sabda beliau:

"Sesungguhnya aku ini lebih mengetahui daripada kamu akan makrifat Allah dan aku lebih takut kepada-Nya daripada kamu; tetapi aku bangun, tidur, berpuasa, berbuka, menikah, dan
sebagainya; semua itu adalah sunnah Barangsiapa yang tidak senang dengan sunnahku ini, maka ia tidak termasuk golonganku."

Karenanya, Islam melarang melakukan hal-hal yang berlebih-lebihan dan mengharuskan mengisi tiap-tiap waktu luang dengan hal-hal yang membawa manfaat, serta menghayati
setiap bagian dalam hidup ini.

Munculnya sufi-sufi di saat kaum Muslimin umumnya terpengaruh pada dunia yang datang kepada mereka, dan terbawa pada pola pikir yang mendasarkan semua masalah
dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka.

Berkembangnya ekonomi dan bertambahnya pendapatan masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh dari tuntutan
Islam).

Iman dan ilmu agama menjadi falsafah dan ilmu kalam (perdebatan); dan banyak dari ulama-ulama fiqih yang tidak lagi memperhatikan hakikat dari segi ibadat rohani. Mereka
hanya memperhatikan dari segi lahirnya saja.

Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan
iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi.

Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang
menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya.

Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam,
yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang makrifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam rohani, semua itu tidak dapat diingkari.

Tetapi, banyak pula di antara orang-orang sufi itu terlampau mendalami tasawuf hingga ada yang menyimpang dari jalan yang lurus dan mempraktekkan teori di luar Islam, ini yang
dinamakan Sathahat orang-orang sufi; atau perasaan yang halus dijadikan sumber hukum mereka.

Pandangan mereka dalam masalah pendidikan, di antaranya ialah seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya.

Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur'an; dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan
mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang menulis sebuah buku yang berjudul: "Madaarijus-Saalikin ilaa
Manaazilus-Saairiin," yang artinya "Tangga bagi Perjalanan Menuju ke Tempat Tujuan." Dalam buku tersebut diterangkan mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak,
sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat Al-Fatihah, "Iyyaaka na'budu waiyyaaka nastaiin."

Kitab tersebut adalah kitab yang paling baik bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah tasawuf secara mendalam.

Sesungguhnya, tiap-tiap manusia boleh memakai pandangannya dan boleh tidak memakainya, kecuali ketetapan dan hukum-hukum dari kitab Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.
Kita dapat mengambil dari ilmu para sufi pada bagian yang murni dan jelas, misalnya ketaatan kepada Allah swt, cinta kepada sesama makhluk, makrifat akan kekurangan yang ada
pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari setan dan pencegahannya, serta perhatian mereka dalam meningkatkan jiwa ke tingkat yang murni.

Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui
ulama ini, dapat kami ketahui tentang banyak hal, terutama ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.
BACA SELANJUTNYA - HAKIKAT TASAWUF (dr. Yusuf Al-Qardhawi)

DEFINISI SUFISME


Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang orang beranda"), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.

Beberapa Definisi Sufisme

Yaitu paham mistik dalam agama Islam sebagaimana Taoisme di Tiongkok dan ajaran Yoga di India (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).

Yaitu aliran kerohanian mistik (mystiek geestroming) dalam agama Islam (Dr. C.B. Van Haeringen).
Pendapat yang mengatakan bahwa sufisme/tasawuf berasal dari dalam agama Islam:

Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal, yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)

Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: "Jalan para sufi dibangun dari Qur'an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah, atau ijma." [11. Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.]

Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar agama Islam:

Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof.Dr.P.Van De Woestijne).

(Sufisme)yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt), manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).

Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India perlahan-lahan mempengaruhi aliran-aliran di daam Islam (Prof.Dr.H.Abubakar Aceh).

Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non-Islam dan berbagai paham mistik. Oleh karenanya paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit mengandung unsur-unsur Ajaran Islam, dengan kata lain dalam Agama Islam tidak ada paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumah orang Islam yang menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980)

Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan "Sufi". Soal hakikat Tasawuf, ia itu bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha" - At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

Sumber : Wikipedia
BACA SELANJUTNYA - DEFINISI SUFISME

LANGGANAN ARTIKEL

sufisme

Masukkan Email Anda dan Anda akan mendapatkan artikel terbaru dari sufisme news langsung di email Anda

Ayat Ilaahy

Religious Myspace Comments ASMA'UL HUSNA SLIDE

About Me

Blog Archive

 

Baner Links